
Photo
JawaPos.com- Dua tahun tradisi Rebo Wekasan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, digelar secara sederhana dampak pandemi Covid-19. Kini, lantaran telah melandai, tradisi turun temurun ratusan tahun itu kembali diselenggarakan terbuka. Mulai khatmil Quran, mengarak tumpeng hingga gelaran pasar rakyat.
Selain menikmati beragam dagangan, kuliner hingga hiburan di pasar malam, pengunjung dari luar daerah biasanya unjung-unjung atau bersilaturahmi ke sanak-kerabatnya di Desa Suci. ‘’Kegiatan rutin dilaksanakan setiap hari Rabu terakhir bulan Safar (kalender Jawa, Red). Sebagai kegiatan pelestarian budaya religi peninggalan Kanjeng Sunan Giri,’’ kata Kepala Desa Suci Ahmad Rizal.
Ada sejumlah versi cerita ikhwal tradisi Rebo Wekasan tersebut. Dikutip dari laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Gresik, Rebo Wekasan adalah tradisi sedekah bumi berupa selamatan di sekitar telaga Desa Suci. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Dari cerita tutur, pada Rabu terakhir bulan Safar tersebut, Tuhan mengabulkan permintaan warga Dusun Sumber, Desa Suci. Mereka telah lama menantikan sumber air guna mencukupi kebutuhan sehari-hari. Akhirnya, sumber air itu dapat ditemukan. Nah, sejak itu pada setiap malam Rabu akhir bulan Safar itu, warga kemudian mengadakan tasyakuran atau selamatan.
Sementara itu, mengutip cerita dari Buku Grisse Tempo Dulu karya Dukut Imam Widodo, Rebo Wekasan adalah sebuah upacara unik yang hanya ada di Desa Suci. Konon, Sunan Giri memerintahkan salah seorang santrinya yang menonjol dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat untuk menyiarkan agama Islam di sekitar perbukitan yang agak jauh dari wilayah Giri.
Daerah yang dipilih adalah Desa Pelaman, sebuah bukit kapur yang tandus dan gersang. Langkah pertama yang dilakukan santri Sunan Giri adalah mendirikan masjid di Desa Pelaman. Warga di daerah perbukitan tandus itu tentu sudah mengenal siapa itu Sunan Giri. Warga pun membantu mendirikan masjid. Bahkan, banyak yang di antara mereka memeluk agama Islam.
Tiba-tiba saja di Desa Pelaman terjadi musibah. Terjadi kemarau panjang. Sebetulnya, warga setempat sudah terbiasa menghadapi kondisi alam yang gersang dan tandus. Namun, musim kemarau saat itu jauh lebih panjang. Perlahan-lahan sumber air di wilayah itu mengering. Banyak tumbuhan layu. Warga dan hewan ternak kehausan sepanjang hari. Sumur di masjid Desa Pelaman ikut mengering.
Sang santri itupun menghadap Sunan Giri untuk melaporkan keadaan Desa Pelaman. Akhirnya, Sunan Giri mengunjungi Desa Pelaman bersama sejumlah santrinya. Setiba di Masjid Pelaman, Sunan Giri melihat sumur masjid yang mengering itu. Sunan Giri pun memberikan petunjuk bahwa beberapa ratus meter tidak jauh dari masjid, terdapat sumber yang sangat besar.
Singkat cerita, apa yang dikatakan Sunan Giri adalah benar. Santri dan para pengikutnya menemukan sumber air di wilayah tersebut. Warga pun bersuka ria ketika menemukan air. ‘’Sumber…sumber…’’
Kalimat itulah yang diucapkan santri dan warga. Lalu, Sunan Giri memerintahkan sejumlah santrinya untuk membuat tiga buah kolam besar untuk padusan atau tempat pemandian. Satu khusus untuk laki-laki, satu untuk perempuan, dan satu lagi untuk keperluan ternak.
Kabar penemuan sumber air baru itu juga menyebar kemana-mana. Sumber air itu pun didatangi banyak orang. Masjid yang semua didirikan di Desa Pelaman, akhirnya dipindah juga ke tempat tersebut. Sejak itu, perkampungan tersebut dinamakan Sumber hingga sekarang.
Menurut penanggalan Jawa, hari diketemukannya sumber dan juga selesainya pembangunan masjid jatuh pada Rabu pungkasan di bulan Safar. Begitu berartinya sumber air, akhirnya warga merasa perlu mengadakan tasyakuran. Wujud rasa syukur kepada Tuhan yang telah melimpahkan RahmatNya.
Sejak saat itu, konon Sunan Giri juga berpesan agar setiap tahun di bulan Safar, pada tengah malam Rabu pungkasan, diadakan tasyakuran. Masyarakat pun mematuhi wejangan itu dan berlangsung hingga sekarang. Selain mengadakan tumpengan, juga mengadakan salat sunnah bersama-sama. Warga setempat juga menyajikan makan khusus berupa lontong bumbu ladan, serabi, hingga beberapa makanan khas lainnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
