
KARANTINA: Petugas di Hotel Asrama Haji membagikan makanan kepada pasien yang menghuni Gedung Zamzam. Sebagian pasien tersebut berasal dari hasil penyekatan perbatasan di Jembatan Suramadu. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Kasus baru penularan Covid-19 menunjukkan tren kenaikan dalam sepekan terakhir. Ketersediaan tempat tidur menipis karena ada lonjakan kasus baru. Jika grafik terus meninggi, bukan tidak mungkin rencana sekolah tatap muka akan ditinjau lagi.
---
DINAS Pendidikan (Dispendik) Surabaya sudah menetapkan pembelajaran tatap muka (PTM) digelar 1 Juli mendatang. Kebijakan itu mengikuti surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Sekolah-sekolah pun sudah melakukan berbagai persiapan.
Namun, rencana itu kini dibayang-bayangi kekhawatiran. Pasalnya, kasus baru penularan Covid-19 di Kota Pahlawan mengalami tren peningkatan. Itu terlihat dari melonjaknya jumlah pasien di sejumlah rumah sakit. Baik di Hotel Asrama Haji (HAH) yang ditangani Pemkot Surabaya maupun Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) di bawah kendali Pemprov Jatim.
Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo Slamet mengatakan, PTM harus merujuk pada kondisi dan realita di lapangan. Saat ini, lanjut dia, paparan baru virus korona menunjukkan angka peningkatan. Hal itu menjadi kekhawatiran, terutama bagi wali murid yang memberikan izin kepada anak-anaknya untuk mengikuti PTM. ’’Pasti khawatir. Makanya, kondisi ini harus jadi pertimbangan (menggelar) PTM,’’ kata Juli kemarin (12/6).
Jika tren kasus terus naik dan tidak terkendali, dewan pendidikan akan mendesak dispendik untuk meninjau ulang PTM pada 1 Juli. ’’Saya setuju ditinjau ulang saja,’’ tegasnya.
Dalam kondisi begitu, kata dia, dispendik tidak memaksakan diri untuk tetap menggelar PTM. Bagaimanapun, keselamatan dan kesehatan jauh lebih penting. Guru dan peserta didik tidak boleh dikorbankan. ’’Pendidikan itu memang penting. Tapi, lebih utama menjaga kesehatan dan keselamatan anak-anak dan guru-guru,’’ imbuhnya.
Meski begitu, pihaknya tidak berharap PTM dibatalkan. Sebab, sekolah-sekolah sudah melakukan banyak persiapan. Terutama dalam menjaga protokol kesehatan (prokes). Kini kuncinya tinggal mengendalikan dan mencegah agar laju virus tidak meningkat lagi. Harapannya, kasus Covid-19 di Kota Surabaya bisa kembali landai.
Kadispendik Surabaya Soepomo mengatakan, sejauh ini pihaknya masih berpegang pada rencana awal. Yaitu, menggelar PTM 1 Juli. Semua sekolah, lanjut dia, sudah siap menggelar PTM. Berbagai persiapan menyangkut prokes sudah maksimal. Sekolah juga sudah melakukan banyak simulasi.
Selain panduan dari dispendik, setiap satuan pendidikan telah menyusun standard operating procedures (SOP) PTM. Mekanismenya diatur secara terperinci dan detail mulai siswa berangkat ke sekolah dari rumah, dalam perjalanan, masuk gerbang sekolah, kegiatan belajar-mengajar di kelas, hingga siswa kembali pulang ke rumahnya. ’’Semua diatur dengan menaati prokes supaya semua aman. Hal teknis juga diatur,’’ ujarnya.
Ketika berangkat ke sekolah, contohnya, siswa harus dalam kondisi fit. Tidak memiliki keluhan sakit seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Kesiapan sekolah dalam menggelar pembelajaran tatap muka juga melalui asesmen satgas Covid-19. Asesmen masih berjalan sejauh ini. Sejumlah sekolah juga masih menunggu analisis hasil asesmen. Apakah sekolah setempat dinyatakan memenuhi syarat untuk menggelar PTM atau tidak.
Soepomo menjelaskan, PTM merujuk pada zona wilayah. Mulai zona hijau, kuning, oranye, hingga merah. Saat ini Surabaya berada pada zona kuning. Nah, zona kuning dan oranye boleh menggelar PTM dengan syarat membatasi jumlah peserta didik yang hadir di ruang kelas. Maksimal diisi 50 persen dari total kapasitas. Waktu pembelajaran tatap muka juga dibatasi.
Menurut dia, masih ada waktu untuk memikirkan prosedur PTM. Pihaknya segera mengundang para pakar dan ahli serta akademisi untuk membicarakan teknis PTM agar aman dari penularan Covid-19. ’’Nanti rekomendasinya apa, ya kita jalankan,’’ imbuh mantan kepala dinas sosial itu.
Lebih lanjut, dia menyampaikan, pihaknya juga sudah memberikan sosialisasi kepada wali murid. Setiap sekolah sudah menjaring pendapat wali murid. Nah, persetujuan wali murid wajib dikantongi sekolah sebagai syarat menggelar PTM.
Baca Juga: Sudah Ditarik Polri, KPK Malah Tunjuk Kompol Ardian jadi Plh Dirdik
Di bagian lain, anggota Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Henry Simanjuntak mengakui, saat ini ada tren kenaikan kasus baru. Menurut dia, peningkatan kasus itu adalah hasil testing dan tracing yang makin gencar dilakukan pemkot. Dengan tes swab massal tersebut, diketahui adanya lonjakan kasus untuk segera ditangani.
’’Memang ini hasil testing dan tracing yang kita lakukan seusai libur Lebaran. Untuk tahu kasus turun atau naik, satu-satunya cara ya memperbanyak testing,’’ jelas Henry.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
