Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Juni 2021 | 18.48 WIB

Dewan Pendidikan Minta Dispendik Surabaya Tinjau Ulang Rencana PTM

KARANTINA: Petugas di Hotel Asrama Haji membagikan makanan kepada pasien yang menghuni Gedung Zamzam. Sebagian pasien tersebut berasal dari hasil penyekatan perbatasan di Jembatan Suramadu. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

KARANTINA: Petugas di Hotel Asrama Haji membagikan makanan kepada pasien yang menghuni Gedung Zamzam. Sebagian pasien tersebut berasal dari hasil penyekatan perbatasan di Jembatan Suramadu. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Kasus baru penularan Covid-19 menunjukkan tren kenaikan dalam sepekan terakhir. Ketersediaan tempat tidur menipis karena ada lonjakan kasus baru. Jika grafik terus meninggi, bukan tidak mungkin rencana sekolah tatap muka akan ditinjau lagi.

---

DINAS Pendidikan (Dispendik) Surabaya sudah menetapkan pembelajaran tatap muka (PTM) digelar 1 Juli mendatang. Kebijakan itu mengikuti surat keputusan bersama (SKB) empat menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran pada masa pandemi Covid-19. Sekolah-sekolah pun sudah melakukan berbagai persiapan.

Namun, rencana itu kini dibayang-bayangi kekhawatiran. Pasalnya, kasus baru penularan Covid-19 di Kota Pahlawan mengalami tren peningkatan. Itu terlihat dari melonjaknya jumlah pasien di sejumlah rumah sakit. Baik di Hotel Asrama Haji (HAH) yang ditangani Pemkot Surabaya maupun Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) di bawah kendali Pemprov Jatim.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Juli Poernomo Slamet mengatakan, PTM harus merujuk pada kondisi dan realita di lapangan. Saat ini, lanjut dia, paparan baru virus korona menunjukkan angka peningkatan. Hal itu menjadi kekhawatiran, terutama bagi wali murid yang memberikan izin kepada anak-anaknya untuk mengikuti PTM. ’’Pasti khawatir. Makanya, kondisi ini harus jadi pertimbangan (menggelar) PTM,’’ kata Juli kemarin (12/6).

Jika tren kasus terus naik dan tidak terkendali, dewan pendidikan akan mendesak dispendik untuk meninjau ulang PTM pada 1 Juli. ’’Saya setuju ditinjau ulang saja,’’ tegasnya.

Dalam kondisi begitu, kata dia, dispendik tidak memaksakan diri untuk tetap menggelar PTM. Bagaimanapun, keselamatan dan kesehatan jauh lebih penting. Guru dan peserta didik tidak boleh dikorbankan. ’’Pendidikan itu memang penting. Tapi, lebih utama menjaga kesehatan dan keselamatan anak-anak dan guru-guru,’’ imbuhnya.

Meski begitu, pihaknya tidak berharap PTM dibatalkan. Sebab, sekolah-sekolah sudah melakukan banyak persiapan. Terutama dalam menjaga protokol kesehatan (prokes). Kini kuncinya tinggal mengendalikan dan mencegah agar laju virus tidak meningkat lagi. Harapannya, kasus Covid-19 di Kota Surabaya bisa kembali landai.

Kadispendik Surabaya Soepomo mengatakan, sejauh ini pihaknya masih berpegang pada rencana awal. Yaitu, menggelar PTM 1 Juli. Semua sekolah, lanjut dia, sudah siap menggelar PTM. Berbagai persiapan menyangkut prokes sudah maksimal. Sekolah juga sudah melakukan banyak simulasi.

Selain panduan dari dispendik, setiap satuan pendidikan telah menyusun standard operating procedures (SOP) PTM. Mekanismenya diatur secara terperinci dan detail mulai siswa berangkat ke sekolah dari rumah, dalam perjalanan, masuk gerbang sekolah, kegiatan belajar-mengajar di kelas, hingga siswa kembali pulang ke rumahnya. ’’Semua diatur dengan menaati prokes supaya semua aman. Hal teknis juga diatur,’’ ujarnya.

Ketika berangkat ke sekolah, contohnya, siswa harus dalam kondisi fit. Tidak memiliki keluhan sakit seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan sesak napas. Kesiapan sekolah dalam menggelar pembelajaran tatap muka juga melalui asesmen satgas Covid-19. Asesmen masih berjalan sejauh ini. Sejumlah sekolah juga masih menunggu analisis hasil asesmen. Apakah sekolah setempat dinyatakan memenuhi syarat untuk menggelar PTM atau tidak.

Soepomo menjelaskan, PTM merujuk pada zona wilayah. Mulai zona hijau, kuning, oranye, hingga merah. Saat ini Surabaya berada pada zona kuning. Nah, zona kuning dan oranye boleh menggelar PTM dengan syarat membatasi jumlah peserta didik yang hadir di ruang kelas. Maksimal diisi 50 persen dari total kapasitas. Waktu pembelajaran tatap muka juga dibatasi.

Menurut dia, masih ada waktu untuk memikirkan prosedur PTM. Pihaknya segera mengundang para pakar dan ahli serta akademisi untuk membicarakan teknis PTM agar aman dari penularan Covid-19. ’’Nanti rekomendasinya apa, ya kita jalankan,’’ imbuh mantan kepala dinas sosial itu.

Lebih lanjut, dia menyampaikan, pihaknya juga sudah memberikan sosialisasi kepada wali murid. Setiap sekolah sudah menjaring pendapat wali murid. Nah, persetujuan wali murid wajib dikantongi sekolah sebagai syarat menggelar PTM.

Baca Juga: Sudah Ditarik Polri, KPK Malah Tunjuk Kompol Ardian jadi Plh Dirdik

Di bagian lain, anggota Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Henry Simanjuntak mengakui, saat ini ada tren kenaikan kasus baru. Menurut dia, peningkatan kasus itu adalah hasil testing dan tracing yang makin gencar dilakukan pemkot. Dengan tes swab massal tersebut, diketahui adanya lonjakan kasus untuk segera ditangani.

’’Memang ini hasil testing dan tracing yang kita lakukan seusai libur Lebaran. Untuk tahu kasus turun atau naik, satu-satunya cara ya memperbanyak testing,’’ jelas Henry.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore