Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Januari 2020 | 00.23 WIB

Habis Benjeng–Balongpanggang, Giliran Cerme Diterjang Banjir

HARI KEDUA: Dampak luberan Kali Lamong, ruas Jalan Morowudi, Cerme, kemarin sempat ditutup. Para pengguna jalan dialihkan ke Jalan Metatu. (Galih Wicaksono/Jawa Pos) - Image

HARI KEDUA: Dampak luberan Kali Lamong, ruas Jalan Morowudi, Cerme, kemarin sempat ditutup. Para pengguna jalan dialihkan ke Jalan Metatu. (Galih Wicaksono/Jawa Pos)

JawaPos.com - Luapan air Kali Lamong di kawasan Benjeng dan Balongpanggang pada hari kedua kemarin (8/1) berangsur surut. Namun, seperti banjir dampak luapan Kali Lamong sebelum-sebelumnya, debit air itu giliran menerjang desa-desa di wilayah Kecamatan Cerme. Kali ini korban terdampaknya lebih besar daripada awal tahun lalu (1/1).

Pantauan Jawa Pos, air mulai bergeser dari kawasan Benjeng dan Balongpanggang ke Cerme sejak Selasa malam (7/1). Sekitar pukul 19.00, air mulai meninggi di Desa Dungus. Warga pun waswas. Apalagi, arus air yang datang cukup deras. Tidak lama, air tersebut juga menutup akses Jalan Raya Morowudi. Jalan itu pun terputus.

Khawatir terhadap keselamatan para pengguna jalan, jajaran Satlantas Polres Gresik pun menutup Jalan Raya Morowudi. Para pengendara yang sehari-hari beraktivitas pagi, baik ke kantor maupun sekolah, terpaksa dialihkan melalui Jalan Raya Metatu. ’’Kalau banjir sampai di Morowudi, artinya sudah besar,’’ kata Ummi Khulsum, warga Cerme.

Banjir tersebut juga membuat kawasan Perumahan Prisma Citra Land Cerme makin terendam. Hingga kemarin sore, ketinggian air di perumahan itu mencapai 1,5 meter. Jendela-jendela rumah warga pun kini hampir tidak terlihat lagi. Akses keluar-masuk perumahan di Desa Guranganyar tersebut ditutup total. Kalau mau masuk, warga wajib pakai perahu lantaran membahayakan.

Menurut Abdul Mukid, anggota Tagana Gresik, kondisi air di perumahan tersebut memang sudah sangat parah. Kemarin relawan kembali mengevakuasi warga. Di perumahan itu, terdapat 270 unit rumah. ’’Seperti banjir sebelumnya, air di perumahan itu bisa surut kalau disedot pakai pompa. Sebab, kondisi lahan lebih rendah,” ungkapnya.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Gresik, di antara 25 desa di Kecamatan Cerme, 12 desa terdampak banjir. Padahal, banjir sebelumnya hanya menyasar tujuh desa. Areal persawahan yang tergenang juga semakin luas. Yang terparah adalah Desa Betiting, Dungus, dan Ngembung.

Sementara itu, Bupati Sambari Halim Radianto memimpin apel kesiapsiagaan bencana alam di halaman pemkab kemarin. Dalam kesempatan itu, Sambari menyampaikan solusi Kali Lamong hanya normalisasi. Tetapi, normalisasi itu menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. ’’Mari duduk bersama dan kita tidak saling menyalahkan. Kita saling berbagi tugas masing-masing. Mari bicara yang lebih teknis karena menyelesaikan program ini tidak cukup setahun,” ujarnya.

Menanggapi banjir Kali Lamong, mantan Wakil Ketua DPRD Gresik Nur Qolib ikut bersuara. Politikus asal Menganti itu sebetulnya sudah sangat lama mendesak eksekutif agar segera menormalisasi Kali Lamong. Dia menyatakan, ada tiga poin solusi. Pertama, jangka panjang berupa proyek nasional. Kedua, jangka menengah berupa pembuatan sudetan dan penampungan yang juga berfungsi untuk irigasi saat musim kemarau. Ketiga, jangka pendek dengan menormalisasi anak sungai dan drainase.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore