alexametrics

Berebut Buang Limbah ke Sungai, Penyebab Air PDAM Se-Surabaya Keruh

8 Juli 2019, 16:53:04 WIB

JawaPos.com – Kali Suroboyo dan Kalimas sedang kritis. Tingkat pencemarannya meningkat drastis dalam sepekan terakhir. Air PDAM se-Surabaya pun keruh dan kuning. Penyebabnya adalah limbah industri.

Manajer Humas PDAM Surabaya Bambang Eko Sakti menuding bahwa salah satu faktor pencemaran sungai adalah limbah industri. Mereka membuang limbah yang selama ini ditampung saat hujan turun sepekan lalu. ”Mohon maaf lho ya. Mungkin karena banyak pabrik yang buang limbah saat hujan kemarin,” katanya.

Sepekan belakangan ini, air keruh sampai ke pelanggan. Bahan kimia yang dibubuhkan PDAM tidak mampu menjernihkan air. Karena itu, PDAM menambah dosis bahan kimia tersebut. Pencemaran sungai tersebut memengaruhi 560 ribu pelanggan di Surabaya. Sebab, air keruh sejak berada di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karang Pilang dan Ngagel.

Ketua Komunitas Nol Sampah Hermawan Some membenarkan tudingan Bambang. Sebab, dia dan rekan-rekannya beberapa kali menemukan pelanggaran serupa di kawasan industri di sepanjang Kali Suroboyo. ”Sudah jadi rahasia umum. Setiap kali hujan, pasti semua rebutan buang limbah ke sungai,” kata dia.

Sungai memiliki kemampuan untuk menetralkan limbah-limbah itu. Masalahnya, hujan yang hadir di musim kemarau pekan lalu tak terlalu deras. Saat limbah telanjur dibuang, sungai tak mampu mengencerkan limbah tersebut.

Apakah pabrik tak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL)? Hermawan yakin hampir seluruh pabrik tersebut punya IPAL. Namun, pengolahan limbah menelan biaya tinggi. ”Pelanggaran tidak dilakukan jajaran manajemen atau direksi. Tapi, justru operatornya,” kata Wawan, panggilan akrab Hermawan.

Operator IPAL bisa mendapat untung saat air limbah dibuang langsung ke sungai. Mereka mendapat keuntungan dari mengambil biaya pengolahan. ”Misalnya, biayanya Rp 100 juta. Yang mereka kelola cuma Rp 70 juta. Sisanya dibuang ke sungai,” kata dia.

Masalahnya, sangat sulit untuk membuktikan semua itu. Pengawasan dari pemerintah juga minim. Praktik pembuangan limbah ke sungai pun masih merajalela. Efek jangka panjangnya, krisis air bisa terjadi di Surabaya. Jika saat ini PDAM sudah sulit mengolah air yang tercemar, Wawan membayangkan bagaimana kondisi sungai 10 atau 20 tahun lagi.

Wawan menambahkan, pencemaran sungai dari tahun ke tahun pun terus menurun. Diperlukan langkah masif untuk mengurangi pencemaran tersebut. ”Apalagi, Surabaya terletak di hilir sungai. Seluruh limbah menumpuk di Surabaya,” kata dia.

Kondisi air PDAM sudah mulai pulih sejak kemarin. Namun, Wawan mengingatkan bahwa pencemaran bisa terjadi sewaktu-waktu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sal/c10/eko



Close Ads