Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 April 2022 | 19.38 WIB

Banyak Pasien di Surabaya Antre Mendapat Darah

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Jumlah ketersediaan darah di Unit Donor Darah (UDD) PMI Surabaya menipis. Bahkan, beberapa golongan darah tinggal satu kantong. Kondisi tersebut memicu antrean permintaan dari pasien. Krisisnya stok darah terjadi karena minimnya jumlah pendonor.

Berdasar data yang diterima Jawa Pos pada Kamis (7/4) siang, jumlah stok darah PRC (packed red cell, sel darah merah) di UDD PMI Surabaya terbatas. Bahkan, golongan darah B dan O hanya satu kantong. Sementara itu, stok trombosit juga menipis. Terutama, golongan darah A dan B kosong. Untuk golongan darah O, hanya ada satu kantong.

Kabaghumas UTD PMI Surabaya dr Wandai Rasotedja mengatakan, data tersebut diambil per pukul 11.30. ’’Bisa jadi sore atau malam nanti sudah habis,’’ katanya. Sebab, permintaan dari pasien terus datang. ’’Kami krisis darah sejak awal jelang puasa,’’ ujar Wandai kemarin.

Menurut dia, krisisnya stok darah, baik PRC maupun trombosit, itu terjadi karena permintaan dan jumlah pendonor tidak sesuai. Setiap hari terdapat permintaan 200–250 kantong, sedangkan jumlah pendonor hanya 100–150 orang per hari.

Stok darah di UDD PMI Surabaya sudah krisis. Akibatnya, banyak keluarga pasien yang menunggu. Menurut Wandai, hingga Selasa (5/4) lalu total ada 75 pasien yang antre untuk mendapatkan darah PRC. ’’Dengan perincian, 46 orang antre mendapat golongan darah O dan 29 orang lainnya menunggu golongan darah B,’’ paparnya.

Untuk antrean trombosit, jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya enam orang. Semuanya antre mendapat golongan darah O. Untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, salah satu caranya adalah donor keluarga. Yakni, pendonor diambilkan dari pihak keluarga. ’’Ini pun harus dilihat kecocokannya,’’ ucapnya.

Wandai menuturkan, permintaan paling banyak adalah jenis PRC. Permintaan trombosit menurun sejak beberapa bulan lalu. Hanya, sekarang jumlah pendonor memang minim. Apalagi dalam puasa seperti sekarang. ’’Mereka mungkin takut lemas dan sebagainya, padahal donor saat puasa tidak masalah,’’ terangnya.

Mobil unit transfusi darah juga belum membantu dengan maksimal saat di Taman Bungkul dan Masjid Al Akbar (khusus Jumat). Menurunnya jumlah pendonor juga disebabkan kegiatan donor massal yang belum ada. Beberapa instansi masih meniadakan kegiatan itu. Mereka menunda hingga setelah Lebaran nanti.

Wandai berharap masyarakat bisa datang untuk menjadi pendonor. Kondisi akan aman jika sehari terdapat minim 300 pendonor. Sebab, permintaan dari rumah sakit terus berjalan. Apalagi, jumlahnya juga cukup banyak.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore