
Photo
Muhammad Fitra Ramadani kini tidak bisa berlarian seperti anak seusianya. Kegiatannya banyak dihabiskan di kursi roda. Bocah 5 tahun itu terpaksa kehilangan kaki kanannya karena diamputasi.
HASTI EDI SUDRAJAT, Jawa Pos
JawaPos.com - ”Ma, kaki adik sakit.” Rintihan itu dilontarkan Fitra kepada ibunya, Dwi Afrianto, saat akan tidur malam pada akhir September. Siang beberapa jam sebelumnya, Fitra terjatuh saat bermain di depan rumah. Dwi spontan melihat kaki anak bungsunya tersebut.
Fitra menunjuk rasa sakitnya di lutut sebelah kanan. Bocah polos itu mengungkapkan bahwa sakitnya semakin menjadi. Tidak seperti beberapa jam sebelumnya. ”Sakit Ma, sakit,” ucapnya berkali-kali. Dwi yang menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah sebagai buruh di pasar kontan saja kebingungan. Dia lantas memberikan obat pereda nyeri. Sejurus kemudian, anaknya terlelap. Fitra tertidur bersama kedua kakaknya.
Namun, rasa sakit yang dialami anaknya ternyata belum hilang.
Fitra kembali mengeluh kesakitan ketika bangun keesokan harinya. Dwi pun berkonsultasi dengan sejumlah tetangganya.
Warga Dukuh Kupang yang tinggal di Driyorejo, Gresik, itu mendapat saran agar anaknya dibawa ke tukang pijat. Bersama sang suami, dia menjalankan saran tersebut.
Dwi menjelaskan, saat itu tulang anaknya disebut tukang pijat sedikit retak. Jadi, lutut Fitra harus diperban sepekan. Dwi lantas membawa anaknya pulang ke rumah setelah memperoleh penanganan.
Namun, perasaan lega sebagai ibu bahwa sang anak mendapat pengobatan hanya bertahan hitungan jam. Fitra kembali mengeluh kesakitan pada malam hari. Merasa kebingungan, Dwi kemudian membuka perban yang belum lama terpasang.
Saat itu, kata dia, kondisi lutut Fitra berbeda dengan sebelumnya. Warnanya biru pucat. Lebam. ”Kelihatan memar,” ujarnya.
Fitra kembali dibawa ke tempat medis. Tepatnya ke poliklinik di Dukuh Kupang. Sebab, status kependudukan keluarganya masih berada di sana. ”Dikasih salep untuk dioleskan ke lutut yang bengkak,” tutur Dwi.
Respons Fitra kali ini berbeda. Bocah kelahiran 7 Juli 2015 itu mengakui bahwa sakitnya sedikit berkurang. Namun, tiga hari berselang Dwi melihat bengkak di kaki anaknya mengeluarkan cairan. ”Saya bawa lagi ke poliklinik,” jelasnya.
Di poliklinik itu, lanjutnya, dokter menyatakan bahwa kaki anaknya semakin parah. Dwi diberi pilihan. Fitra dirujuk ke RS William Booth atau RSUD dr Soetomo. Dia dan suami sepakat dengan pilihan kedua.
Namun, di rumah sakit pelat merah tersebut, dia mendapat penjelasan yang membuat hatinya teriris sebagai orang tua. Dokter menyebut luka anaknya sudah akut. Fitra tidak punya pilihan. Kakinya harus diamputasi. ”Dokter bilang jaringan kaki Fitra sudah rusak,” kenangnya.
Fitra harus segera diamputasi. Jika tidak, bakteri bisa menyebar ke tubuh. Kondisi itu bisa membahayakan nyawa.
Muhammad Sholeh, ayah Fitra, menuturkan bahwa dirinya dan istri tidak punya pilihan lain. Mereka berdua akhirnya membuat keputusan pahit. Menyetujui amputasi. ”Di rumah sakit itu juga kami buat keputusan,” kata Sholeh.
Pilihan itu memang sulit. Namun, dia memilih berpikir panjang. Fitra masih punya masa depan. Dia bisa memakai kaki palsu.
Fitra menuntaskan perawatan selama 12 hari. Di sela-sela pemulihan tersebut, Sholeh sering ditanya guru TK anaknya. Dia penasaran karena Fitra lama tidak masuk. ”Awalnya, saya tutupi. Namun, gurunya lama-kelamaan juga curiga,” paparnya.
Sholeh menjelaskan kondisi anaknya secara gamblang. Dia tidak menyangka cerita itu ternyata menyebar di media sosial (medsos). Kondisi Fitra menarik empati banyak orang. Salah satunya, komunitas Bonek Mania.
Beberapa pentolan Bonek sering menghubunginya. Mereka berkoordinasi tentang jadwal kepulangan anaknya. ”Ternyata teman-teman Bonek mengajak banyak pihak untuk memberikan bantuan,” ungkapnya.
Donasi yang datang tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga perseorangan. Pengacara George Handiwiyanto, salah satunya. ”Alhamdulillah, masih ada yang peduli dengan keluarga kami,” ujarnya.
Sholeh tidak bisa membayangkan masalah anaknya jika harus menghadapi sendiri. Sebab, kondisi keuangan keluarganya pas-pasan. Penghasilannya sebagai tukang tambal ban tidak tentu. Begitu pun upah istri sebagai buruh. ”Dari pagi sampai sore kerjanya. Dapat Rp 50 ribu,” terangnya.
Penghasilan mereka selama ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia pun mengapresiasi pemerintah yang juga memberikan bantuan. Sholeh dan keluarga kini tidak lagi indekos di Gresik. Mereka menerima santunan untuk tinggal di Rusunawa Sumur Welut, Surabaya. ”Jadi, kami dan Fitra bersemangat menyambut masa depan yang lebih baik,” tandasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=zGnH7bHCaUc

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
