
PASAR MURAH: Sejumlah warga Surabaya memanfaatkan operasi pasar murah dengan membeli sejumlah sembako yang digelar oleh Dinas Koperasi Kota Surabaya di Jalan Undaan Wetan, Jumat (2/9). Dipta Wahyu/Jawa Pos
JawaPos.com – Pemkot Surabaya memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah perangkat di tingkat bawah. Mulai Kader Surabaya Hebat (KSH), RT, RW, LPMK, hingga modin. Insentif mereka dinaikkan 100 persen sejak 2021.
Selain insentif, mereka juga mendapatkan sejumlah fasilitas untuk menunjang kinerja. KSH misalnya. Tahun ini para kader akan diberi perlengkapan kerja. Mulai pakaian seragam, topi, sepatu, hingga senter untuk juru pemantau jentik (jumantik).
Dananya sudah disetujui dalam KUA-PPAS perubahan 2022. Nilai anggarannya Rp 13,4 miliar. ”Kami sudah sepakati tambahan anggaran itu,’’ kata Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono kemarin (2/9).
Anggaran itu sudah disepakati dalam rapat badan anggaran (banggar) bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemkot Surabaya. Menurut dia, perlengkapan kerja tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung kerja KSH di lapangan. Itu adalah kebutuhan dasar bagi kader di setiap RT yang jumlahnya sekitar 47 ribu kader.
Tugas KSH pun beragam. Mulai penanganan stunting, pemberian makanan bagi bayi gizi buruk, hingga menjadi penyuluh kesehatan bagi warga sekitar. Para kader juga mengisi aplikasi Sayang Warga agar mudah dipantau oleh instansi terkait. ”Sehingga dengan perlengkapan kerja ini, ada peningkatan kinerja. Setidaknya KSH menjadi makin termotivasi,’’ imbuh Awi, sapaan Adi Sutarwijono.
Bukan hanya itu. Sebanyak 47 ribu KSH juga diusulkan untuk mendapat tambahan insentif tahun depan. Itu disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam acara ngobrol santai (ngobras) di Ballroom Empire Palace pada 22 Agustus lalu. Meski demikian, Eri belum menyampaikan secara terperinci kenaikan insentif yang diusulkan. Saat ini setiap KSH memperoleh insentif Rp 400 ribu per bulan.
Menanggapi hal itu, Awi mengaku belum bisa memastikan. Apakah kenaikan insentif akan tersebut disetujui atau tidak. DPRD, jelas dia, akan melakukan kajian. Juga disesuaikan dengan kekuatan anggaran dalam APBD 2023. ”Kan tidak bisa disetujui begitu saja. Harus ada kajian,’’ ujarnya.
Meski demikian, pihaknya meyakini usulan kenaikan itu sudah melalui pertimbangan. ”Tentu pertimbangannya semata-mata karena peningkatan kinerja dan penghargaan kepada para kader,’’ ujar ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya itu.
Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Surabaya Mochamad Machmud menyampaikan, wali kota tidak bisa menaikkan anggaran perangkat secara sepihak. Harus ada persetujuan dari DPRD. ”Apalagi usulan kenaikan itu belum disampaikan ke dewan,’’ ungkapnya.
Dia menyampaikan, insentif perangkat sudah mengalami kenaikan selama kepemimpinan Eri Cahyadi-Armudji. Pada saat kepemimpinan Tri Rismaharini, insentif KSH hanya Rp 50 ribu per bulan. Saat ini nilainya mencapai Rp 400 ribu per orang per bulan.
Kenaikan insentif sampai 100 persen juga diberikan kepada perangkat lain. Insentif RT yang semula Rp 550 ribu per bulan kini menjadi Rp 1 juta per bulan. Insentif RW yang awalnya Rp 600 ribu menjadi Rp 1.250.000 per bulan. LPMK yang semula Rp 700 ribu kini menjadi Rp 1,5 juta per bulan. ”Kami minta kenaikan ini murni untuk kinerja. Jangan sampai bermotif politis,’’ tegas Machmud.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
