
Ilustrasi memerangi virus Korona (Adnan Reza Maulana/Jawa Pos)
JawaPos.com ‒ Meski penerapan kehidupan normal baru alias new normal belum diberlakukan di Jatim, sejumlah aktivitas ancang-ancang segera dimulai. Salah satunya pendidikan di lingkungan pondok pesantren (ponpes).
Senin (1/6) pemprov bersama Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jatim membahas fenomena para santri yang segera kembali menjalankan aktivitasnya di pesantren-pesantren.
Hasilnya, ada empat opsi yang ditawarkan ke pengasuh ponpes. Semua opsi tersebut merupakan hasil analisis pemprov bersama Kemenag Jatim. Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim Wahid Wahyudi mengatakan, opsi pertama adalah santri tetap kembali ke pesantren dengan penerapan standar protokol pencegahan Covid-19. Opsi berikutnya, santri kembali secara bertahap. ’’Opsi ketiga adalah santri kembali setelah pesantren disterilkan. Terakhir, santri menunggu sampai wabah Covid-19 landai,’’ katanya.
Empat tawaran itu diserahkan kepada seluruh pengelola pesantren untuk dipilih. ’’Nanti pemprov memberikan dukungan berupa perangkat kesehatan,’’ katanya.
Wahid menambahkan, dari hasil analisis, ada beberapa kesimpulan. Salah satunya, pesantren memiliki semangat belajar tinggi. Namun, tidak semua pesantren bisa menyediakan perangkat protokol pencegahan Covid-19.
Selain itu, jumlah penghuni pesantren sangat banyak sehingga social dan physical distancing susah diterapkan. Di sisi lain, orang tua santri sangat mendorong kegiatan mengaji dimulai kembali. ’’Karena itu, kami tawarkan empat strategi dari hasil analisis tersebut,’’ jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Jatim Ahmad Zayadi mengatakan ada santri yang pembinaannya di bawah sekolah. Ada juga yang hanya di bawah pesantren. Santri yang pembinaannya di bawah sekolah adalah yang belajar di madrasah. ’’Santri yang hanya mondok itu langsung dibina pesantren, kewenangannya ada di pengasuh pesantren,’’ katanya.
Pengawasan di lingkungan madrasah lebih mudah. Standar protokol bisa diterapkan di tiap madrasah. Social dan physical distancing juga bisa diterapkan. Berbeda dengan santri yang hanya mondok di pesantren. Penataannya lebih sulit. Bergantung pengasuhnya.
Pembahasan kelanjutan aktivitas pesantren di Jatim memang cukup vital. Sebab, sedikitnya ada 4.718 pesantren di provinsi tersebut. Jumlah santri mencapai lebih dari 900 ribu. Dari jumlah itu, sekitar 600 ribu santri di antaranya mengenyam pendidikan di madrasah atau sejenisnya.
Sejumlah perwakilan pengasuh ponpes di Jatim memang berharap ada kebijakan dari pemerintah dalam menyikapi wacana new normal di sektor pesantren. Misalnya, yang diungkapkan Ketua Rabithah Ma’ahid al Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Jember Fuad Achsan. Dia menuturkan, pesantren cukup lama mengalami kekosongan aktivitas. ’’Persoalannya, banyak pesantren yang tidak punya sarana cukup untuk menjalani tatanan normal baru itu,’’ jelasnya.
Empat Strategi yang Ditawarkan Pemprov untuk Pesantren:

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
