
Ilustrasi wisudahan. (Freepik)
JawaPos.com - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan, mendapat sorotan masyarakat.
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Achmad Hidayatullah, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam agar tidak keliru dalam memahami persoalan utama pendidikan di Indonesia.
Secara khusus ia menyoroti pernyataan Sekjen Kemendiktisaintek, Badri Munir Sukoco soal oversupply lulusan sebagai dasar penutupan prodi, yang dinilainya mencerminkan kebingungan arah kebijakan pendidikan nasional.
“Penyederhanaan persoalan menjadi sekadar oversupply lulusan itu problematis. Seolah-olah akar masalahnya ada pada jumlah lulusan, padahal realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda,” tutur Dayat, Minggu (26/4).
Ia menjelaskan kekurangan guru masih terjadi di kota maupun daerah 3T. Bahkan, kebutuhan pengajar kadang diisi TNI dan Polri. Ini menunjukkan masalah utama adalah ketimpangan distribusi, bukan kelebihan lulusan.
Menurutnya, persoalan bukan jumlah guru berlebih, melainkan penyebarannya tidak merata. Namun, program studi pendidikan justru berisiko disalahkan sebagai penyebab utama persoalan tersebut.
“Yang terjadi bukan kelebihan guru, melainkan distribusinya yang tidak merata. Namun, prodi pendidikan justru berisiko dijadikan kambing hitam,” imbuh Alumnus University of Szeged Hungary tersebut.
Dayat mengingatkan, jika relevansi prodi hanya didasarkan kebutuhan industri, orientasi perguruan tinggi bisa bergeser menjadi sekadar penyedia tenaga kerja, padahal perannya jauh lebih luas dari itu.
“Ini berbahaya karena mereduksi peran universitas hanya sebagai ‘pabrik tenaga kerja’. Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang produksi pengetahuan, refleksi kritis, sekaligus penggerak peradaban,” beber Dayat.
Jika logika tersebut terus digunakan, maka disiplin ilmu yang tak memiliki keterkaitan langsung dengan industri akan semakin terpinggirkan. Kondisi ini dikhawatirkan mengarah pada komersialisasi pendidikan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
