
Suasana Pasar Daging Arimbi pada H-1 Lebaran, Jumat (20/3). (Novia Herawati/JawaPos.com)
JawaPos.com–Suasana Pasar Daging Arimbi di Kelurahan Sidotopo, Kecamatan Semampir, Surabaya, lebih sibuk dari biasanya pada H-1 Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) 2026, Jumat (20/3).
Sejak pagi buta, lorong-lorong pasar yang biasanya tampak lengang, kini dipenuhi lalu lalang pembeli yang berburu daging segar untuk hidangan Lebaran. Mayoritas pembeli adalah ibu rumah tangga.
Di antara deretan lapak yang berbaris rapi, pedagang dan pembeli tampak saling berinteraksi dengan cepat. Tawar-menawar terdengar bersahutan di hampir setiap sudut, menciptakan suasana yang riuh namun akrab.
Tangan-tangan cekatan pedagang menimbang, memilih, hingga membungkus potongan daging segar yang siap diolah menjadi hidangan khas Lebaran, seperti rendang, opor, hingga rawon, menu wajib di meja makan keluarga.
Nanik Lestari, 28, ibu rumah tangga asal Semampir, Surabaya mengaku rela datang lebih pagi demi mendapatkan daging segar. Dia berangkat dari rumah menggunakan motor sekitar pukul 7 pagi.
”Soalnya daging ini wajib ada setiap Lebaran. Tradisi di keluarga saya masak rendang, jadi mau harganya mahal atau murah, tetap usahain buat beli,” ucap perempuan berkerudung cokelat susu itu sambil memilih potongan daging.
Bagi Nanik, kenaikan harga daging menjelang Ramadan dan Lebaran bukan hal baru. Dia pun memiliki siasat agar tetap bisa menyajikan olahan daging tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
”Kan nggak bisa bikin rendang kalau nggak ada daging, jadi cara yang saya lakukan kalau harganya terlalu mahal itu mengurangi pembelian. Misal biasanya saya beli tiga kilo daging, ini saya beli dua kiloan saja,” imbuh Nanik.
Hal senada disampaikan Nur Aini, 29, warga Kenjeran, Surabaya. Ibu rumah tangga ini juga tidak bisa mencoret daging dari daftar belanja untuk membuat hidangan Lebaran di keluarganya.
”Ya kalau hari raya (Lebaran) kaya gini, terus nggak ada daging itu kan kaya hari biasa, nggak ada bedanya, masa nggak buat opor, semur, ya mau nggak mau tetap beli, meskipun harganya mahal,” keluh Aini.
Berbeda dengan Nanik, Aini memilih tidak mengurangi jumlah pembelian daging demi mempertahankan esensi Lebaran. Meski harganya mahal, dia tetap membeli dalam porsi seperti biasa.
”Nggak, saya beli seperti biasanya. Saya juga kan kebutuhannya sedikit, 2 kilo daging juga sudah lebih dari cukup untuk saya, suami, dan anak,” lanjut perempuan setinggi kurang lebih 150 meter dengan rambut hitam terurai.
