Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo Surabaya, kolaborasi PLN dan Pemkot Surabaya menjadi percontohan nasional. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com–Sampah menjadi persoalan klasik yang dihadapi kota-kota metropolis. Denyut aktivitas warga dari dapur rumah tangga, pasar, hingga pusat perbelanjaan, melahirkan ribuan ton sampah setiap hari.
Jika tak dikelola dengan tepat, tumpukan sampah tersebut bukan hanya menjadi persoalan estetika, tetapi juga ancaman lingkungan dan kesehatan masyarakat. Namun tidak dengan Kota Surabaya.
Daerah berjuluk Kota Pahlawan ini memiliki jalan berbeda. Sampah yang selama ini dianggap sebagai beban, pelan-pelan diubah menjadi peluang, melalui pengolahan terintegrasi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.
Di sudut Barat Kota Pahlawan, tepatnya di Kelurahan Sumber Rejo, Kecamatan Pakal, sampah tidak lagi berakhir sebagai timbunan semata. Tapi diproses menjadi sumber energi listrik yang menopang kebutuhan masyarakat.
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) kerap dipromosikan sebagai solusi masa depan pengelolaan sampah perkotaan. Namun realita di lapangan, gagasan ini masih bergulat dengan tantangan operasional dan keberlanjutan.
Di Surabaya, narasi ini dipatahkan dengan kehadiran PLTSa Benowo. Beroperasi lebih dari sembilan tahun, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ini menyumbang energi bersih hingga 166,1 Gigawatt hour (GWh).
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jawa Timur Ahmad Mustaqir mengatakan, PLTSa Benowo adalah wujud nyata kolaborasi PLN dengan Pemkot Surabaya untuk mendukung energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
"Setiap tahunnya, PLTSa Benowo berkontribusi memasok energi bersih sekitar 5,5 GWh dan 30 GWh untuk masing-masing pembangkit. Yakni pembangkit berkapasitas 1,65 MW dan 9 MW," tutur Mustaqir, Jumat (16/1).
PLN berkomitmen untuk terus menambah bauran energi terbarukan. Ini menjadi bagian dari percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.
Pengelolaan sampah tak lagi menjadi persoalan klasik, sejak adanya PLTSa pada 2015. Dengan teknologi tersebut, kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta ini mampu mengolah ribuan sampah menjadi listrik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dedik Irianto mengungkapkan setiap harinya, ada sebanyak 1.600 ton sampah yang diubah menjadi energi listrik di Pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Benowo.
"Sampah-sampah tersebut diolah dan menghasilkan listrik 12 megawatt (MW). Jadi begini, ada dua teknologi pengelolaan sampah yang dilakukan di PLTSa Benowo," tutur Didik Irianto.
Teknologi pertama adalah landfill gas power plan, yang mengolah sampah organik dengan metode menyedot gas metan pada tumpukan sampah. Dengan teknologi ini, PLTSa Benowo menghasilkan listrik 2 MW setiap hari.
"Sementara sampah non organik diolah menggunakan teknologi termokimia atau gasifikasi power plan. Teknologi ini menghasilkan listrik 9 MW setiap harinya," sambung dia.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
