
Suasana malam di kawasan wisata Tunjungan Romansa. Pengunjung menikmati malam dengan kulineran atau berkumpul bersama pasangan, sahabat, dan keluarga, Jumat (17/10/2025). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
"Rek Ayo Rek, Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan...." sepenggal lirik dari lagu 'Rek Ayo Rek' karya Is Haryanto, tentu tak asing lagi di telinga warga Kota Pahlawan. Lagu ini bukan sekadar ajakan plesir, tetapi simbol kedekatan warga Surabaya dengan Jalan Tunjungan.
JawaPos.com - Yogyakarta punya Jalan Malioboro. Bandung punya Jalan Braga. Surabaya? Tentu saja punya Jalan Tunjungan, jantung Kota Pahlawan yang selalu hidup, siang dan malam.
Bagi warga Surabaya, Tunjungan bukan sekadar nama jalan, melainkan ruang melepas penat, berbagi tawa dan menenun cerita di antara cahaya lampu dan langkah kaki yang tak pernah berhenti.
Di ruas jalan sepanjang kurang lebih 870 meter dengan lebar 8 meter ini, puluhan gerai berjejer rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Mulai dari coffee shop, toko serba ada, kuliner tradisional, hingga gerai fesyen kekinian.
Begitu malam tiba, Jalan Tunjungan berubah menjadi panggung kota. Lampu neon menyala terang, musik jalanan mengalun, dan aroma kopi dari kafe-kafe hits berpadu dengan riuh tawa pengunjung yang berjalan santai di trotoar.
Inilah yang disebut warga Surabaya 'Mlaku-Mlaku nang Tunjungan'. Lanskap gedung-gedung perkantoran dan hotel yang menjulang tinggi juga menjadi daya tarik tersendiri di Jalan Tunjungan.
Tak jarang, wisatawan memilih berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dengan swafoto. Cara sederhana untuk menikmati pesona malam yang seolah hanya dimiliki Surabaya: hangat, hidup, dan penuh cerita di setiap sudutnya.
Namun, di balik hiruk pikuk Jalan Tunjungan yang kini menjelma sebagai pusat perbelanjaan yang digandrungi kawula muda, tersimpan jejak masa lalu sebagai pusat perdagangan di masa kolonial.
Pengamat Sejarah Surabaya, Kuncarsono Prasetya bercerita kepada JawaPos.com, pusat perdagangan di Toendjoengan berkembang karena gedung Siola. Gedung ini dibangun sejak 1877 dan dulunya bernama Whiteaway Laidlaw.
"Siola ini dulunya adalah toko serba ada, jadi pionir pusat perbelanjaan pertama di kawasan Jalan Tunjungan. Lalu merembet dan muncul pertokoan lain, seperti Aurora, Toko Nam," tutur Kuncar, sapaan karibnya, Jumat (17/10).
Memasuki era pasca kolonial, citra Toendjoengan justru semakin berkembang dengan kehadiran komunitas India. Banyak etnis India yang mendirikan bisnis di kawasan ini, utamanya garmen.
"Tidak banyak yang tahu bahwa yang meramaikan di situ (perdagangan di Jalan Tunjungan) ternyata dari komunitas India," imbuh Kuncar yang juga Koordinator Komunitas Begandring Soerabaia.
"Saya membaca referensi, tahun 70-an itu memang puncak kejayaan Jalan Tunjungan sebagai pusat perdagangan industri garmen. Baru kemudian tahun 80-an akhir, berubah menjadi elektronik, tren bisnis, ya" lanjutnya.
Sayang, masa kejayaan itu tak berlangsung lama. pada tahun 1990-an, aktivitas perdagangan di Jalan Tunjungan mulai meredup. Ditambah lagi hantaman badai krisis moneter pada 1998.
"Tahun 98 ini sudah banyak (pertokoan di Jalan Tunjungan) milik orang-orang etnis India yang tutup karena krisis moneter. Mungkin hanya sekitar 10 persen yang bertahan, seperti hotel atau perkantoran," terang Kuncar.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
