Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 00.56 WIB

Pasca Tragedi Pesantren Al Khoziny, ITS Tawarkan Pendampingan Gratis untuk Pembangunan Pondok Pesantren

Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Liburkan Sementara Kegiatan Belajar Pasca Tragedi Musala Ambruk. (Istimewa) - Image

Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Liburkan Sementara Kegiatan Belajar Pasca Tragedi Musala Ambruk. (Istimewa)

JawaPos.com-Tragedi ambruknya bangunan empat lantai di area Pondok Pesantren Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin (29/9), menjadi perhatian banyak pihak.

Tidak terkecuali akademisi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tim ahli konstruksi dari Departemen Teknik Sipil dari kampus tersebut bahkan dilibatkan dalam operasi SAR. 

Pakar Konstruksi ITS Mudji Irmawan menyatakan, siap memberikan pendampingan teknis bagi lembaga pendidikan atau pondok pesantren yang sedang merencanakan pembangunan. 

“Kami siap membantu siapa pun yang ingin memastikan bangunannya aman secara teknis, baik itu lembaga pendidikan atau pondok pesantren. Tanpa dipungut biaya alias gratis,” tutur Mudji di Surabaya, Jumat (10/10).

Pendampingan teknis ini adalah bentuk kontribusi akademik ITS, yang mendorong kolaborasi antara masyarakat dan perguruan tinggi untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan fasilitas publik.

Mudji mengatakan, ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny menjadi pengingat betapa pentingnya pengawasan yang ketat dalam pembangunan gedung bertingkat. 

"Berdasar kajian lapangan, sebagian besar kegagalan struktur di Indonesia berawal dari kelalaian manusia dalam proses konstruksi. Lemahnya sambungan elemen dan pengawasan teknis tidak optimal juga jadi faktor," imbuh Mudji Irmawan.

Mudji menegaskan, pembangunan gedung bertingkat berisiko tinggi tanpa perencanaan yang tepat. Karena itu, keterlibatan tenaga ahli dan penerapan standar keselamatan harus diperhatikan betul sejak awal.

Pada intinya, koordinasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu diperkuat agar setiap pembangunan memenuhi standar keamanan. Sehingga tragedi yang menimpa Ponpes Al Khoziny tidak terulang lagi.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Infrastruktur dan Inovasi, poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

“Keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pembangunan, bukan sekadar pelengkap,” tukas Dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut.

Kronologi Singkat Insiden Ponpes Al Khoziny

Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny, tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. 

Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan Sholat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan. Polisi menyebut dugaan awal karena kegagalan konstruksi.

Setelah 9 hari berjibaku mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan, kegiatan operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB. Data terakhir, korban dalam bencana non alam ini mencapai 171 orang, dengan rincian 104 korban selamat dan 67 korban meninggal dunia, termasuk 8 body part

Hingga kini, proses identifikasi jenazah korban masih dilakukan Tim Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara. Dari puluhan korban meninggal dunia, 48 berhasil teridentifikasi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore