Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 00.12 WIB

Miris, Dua Anak di Surabaya Putus Sekolah demi Rawat Ayah Lumpuh tapi Malah Disiksa

Miris, Dua Anak di Surabaya Putus Sekolah demi Rawat Ayah Lumpuh tapi Malah Disiksa. (Istimewa) - Image

Miris, Dua Anak di Surabaya Putus Sekolah demi Rawat Ayah Lumpuh tapi Malah Disiksa. (Istimewa)

JawaPos.com - Dua kakak beradik di Surabaya, B, laki-laki, 7 tahun dan A, perempuan, 4 tahun, terpaksa putus sekolah demi merawat ayahnya yang lumpuh, namun mereka justru mengalami kekerasan dari sang ayah, BS, 60 tahun. 

Hal ini dibenarkan oleh Camat Tenggilis, Wawan Widarto membenarkan. Kakak beradik tersebut sudah satu tahun tidak sekolah. Mereka dan sang ayah tinggal di Kutisari Selatan, Tenggilis Mejoyo, Surabaya. 

BS mengalami lumpuh di kedua kakinya selama setahun terakhir. Sebelum lumpuh, BS diketahui bekerja di usaha katering. BS memiliki 3 anak. Anak pertama berinisial BE, anak kedua berinisial B, dan anak ketiga berinisial A.

"Sebenarnya kan target kita ini untuk menyelamatkan anaknya, supaya bisa mendapatkan pengasuhan yang sebaik-baiknya, termasuk juga hak sekolah kan gitu ya," ujar Wawan, Sabtu (13/9).

Mendapat laporan adanya dua anak kakak beradik menjadi korban kekerasan sang ayah, hingga mata mereka berdarah, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun segera melakukan evakuasi.

Setelah berhasil dievakuasi Kamis (11/9) lalu, BS langsung dilarikan ke Rumah Sakit Menur Surabaya untuk mendapatkan perawatan. Ia diduga menderita komplikasi penyakit selain kelumpuhan akibat terjatuh di kamar mandi.

"Ini kami juga berkoordinasi dengan pihak DP3APPKB, Dinas Sosial, anak-anak ini (B dan A) sudah nanti insyaAllah diamankan di LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak)," imbuhnya.

Selama ini, Pemkot Surabaya berupaya memberikan akses bantuan kepada BS dan anak-anaknya. Namun, BS tak berkenan anak-anaknya diasuh pihak lain dan kekeuh ingin merawat B dan A. 

"Anaknya yang pertama (BE) itu sempat kita akseskan untuk dapat apa ya KTP, kemudian juga nanti kita kejar paket kan karena sudah usia 17. Jadi nggak benar kalau memang itu ya yang dimaksud bantuan itu apa," ujar Wawan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tenggilis, dokter Heni Agustina mengatakan dari pantauan kesehatan, pihaknya mendapati kondisi mata B lebam dan luka, namun saat ditanya dia berdalih terjatuh. 

BS pun akhirnya mengakui bahwa dirinya telah memukul anak-anaknya dengan rotan. Alasannya karena emosi. Rotan tersebut lalu terkena mata kedua B dan A hingga merah. 

"Tapi kalau misalnya dilempar dari jarak jauh kan nggak mungkin seperti itu ya (mata B dan A memerah). Mungkin melemparnya atau memukulnya dari jarak dekat itu," tutur Heni Agustina.

Benar saja, berdasarkan pemeriksaan, BS tidak hanya menderita kelumpuhan di kedua kakinya pasca jatuh dari kamar mandi, tetapi juga menderita hipertensi, diabetes, dan gangguan ginjal. (*)

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore