
apolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto menanggapi penggunaan gas air dalam aksi demo di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (29/8). (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto menanggapi penggunaan puluhan gas air mata terhadap massa aksi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya hari ini, Jumat (29/8). Menurutnya, pengamanan memiliki SOP eskalasi (tingkatan) yang wajib dipatuhi.
"Pengamanan itu pertama simpatik dulu, imbauan. Kita bertahan dan barikade. Tadi kita lihat kawat-kawat pembatas dirusak. Itu di Grahadi, loh. Simbol kebesaran Provinsi Jatim," tutur Irjen Pol Nanang di Mapolda Jatim, Jumat (29/8).
Tidak hanya itu, lanjut Irjen Pol Nanang, massa malah lebih keras terhadap aparat kepolisian. Imbauan pun diabaikan. Akhirnya, aparat berlanjut ke tahap pengamanan kedua, yakni menembakkan meriam air.
"Kemudian baru penyemprotan air. Ya mungkin karena panas disemprot malah senang, kemudian mulai pembakaran fasilitas, CCTV, sampai-sampai paving dipakai untuk melempar dan kendaraan bermotor dibakar, sudah kita ingatkan," imbuhnya.
Lebih lanjut, sesuai surat pemberitahuan, Irjen Pol Nanang menyebut aksi selesai jam 18.00 WIB. Namun mendekati jam tersebut, massa tetap bertahan dan tidak membubarkan diri. Aparat pun mencoba menyemprotkan meriam air sekali lagi.
"Kita menggunakan aturan yang ada. Aturannya menggunakan apa? Gas air mata. Tidak ada kami menggunakan senjata, apalagi peluru karet, nggak, kita menggunakan itu (gas air mata), supaya paling tidak (massa mau) minggir," terang Nanang.
Sebagai informasi, terakhir kali aparat kepolisian di Jawa Timur menembakkan gas air mata terjadi pada tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022. Sejak itu, gas tidak pernah lagi digunakan hingga akhirnya kembali dikeluarkan dalam aksi demonstrasi hari ini, Jumat (29/8).
Dari pantauan JawaPos.com, massa aksi mulai bergerak dan menutup Jalan Gubernur Suryo sekitar pukul 14.30 WIB. Tanpa orasi, mereka langsung menghujani aparat yang berada di dalam Gedung Grahadi.
Mulai dari botol mineral, kayu, batu bata, kerikil, hingga pot bunga. Suasana demo semakin mencekam setelah aparat kepolisian menembakkan meriam air. Amarah massa pun menjadi-jadi.
Mereka merusak beberapa fasum, seperti tiang listrik, tempat sampah dan melemparkannya ke dalam gedung Negara Grahadi. "Revolusi, revolusi, revolusi," teriak massa aksi kompak lalu menyanyikan lagu Buruh Tani dan Darah Juang.
Sejumlah massa aksi pun melemparkan bom molotov hingga menimbulkan percikan api dan menimbulkan kobaran besar di sisi timur kompleks Gedung Negara Grahadi. Tak hanya itu, massa pun merusak belasan motor yang terparkir di Jalan Gubernur Suryo.
Bentrokan antara massa aksi dengan aparat di demo Surabaya pun semakin menjadi-jadi. Massa aksi menyalakan petasan dan diarahkan ke aparat. Sebaliknya, aparat membalas dengan gas air mata.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
