Sebanyak 14 juru parkir liar dan "pak ogah" diamankan dari wilayah Tamansari, Jakarta Barat, Senin (12/5). (Istimewa)
JawaPos.com-Penertiban parkir liar minimarket di Kota Surabaya sempat menuai pro dan kontra, hingga akhirnya Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) sepakat untuk menggratiskannya.
Kontroversi terjadi ketika Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, memerintahkan jajarannya untuk menyegel seluruh minimarket yang tidak patuh menyediakan petugas parkir resmi gratis dan berseragam perusahaan.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo menilai langkah Wali Kota Eri kurang tepat dan mencerminkan lemahnya desain tata kelola perparkiran.
“Masalahnya ada di parkiran, tetapi yang dihukum justru pemilik minimarket. Ini menjadi tidak proporsional. Memberatkan pelaku usaha dan mikro dan menengah," tutur Prof. Rossanto, Sabtu (21/6).
Menurutnya, tindakan represif memang bisa menimbulkan efek jera, namun tak menyentuh akar masalah bila tidak dibarengi dengan reformasi sistem. Terlebih, bukan hanya minimarket yang punya lahan parkir terbuka.
“Selama ini, Pemerintah (Kota Surabaya) memungut pajak parkir tanpa sistem yang benar-benar bisa menghitung jumlah kendaraan yang parkir (selama jangka waktu tertentu) dan nilai transaksinya,” imbuhnya.
Alih-alih mengandalkan sanksi penyegelan hingga ancam izin usaha pengusaha, Prof. Rossanto memberikan usulan tiga solusi untuk menertibkan praktik parkir liar, yang sudah merajalela di Surabaya.
Pertama, kerja sama dengan penyedia layanan parkir profesional berbasis teknologi agar parkir tetap gratis bagi masyarakat, dan pajak dihitung dari data aktual.
Kedua, sistem retribusi resmi oleh juru parkir yang ditunjuk pemerintah, dengan tarif wajar bagi pengguna.
Ketiga, retribusi dibayar oleh minimarket, bukan masyarakat. Namun, skema terakhir dinilai kurang ideal karena menambah beban usaha dan berpotensi menaikkan harga barang.
“Dengan pendekatan ini, parkir tetap bisa gratis bagi masyarakat, sementara pihak minimarket hanya perlu bekerja sama dan menyesuaikan sistemnya tanpa terbebani secara sepihak,” tukas Prof. Rossanto. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
