Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Juni 2025 | 01.33 WIB

ITS dan Kementerian Transmigrasi Kolaborasi Kembangkan Program Transmigrasi Patriot Berbasis Riset, Mahasiswa Siap Terjun ke Daerah

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. (ITS) - Image

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara. (ITS)

JawaPos.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkuat perannya dalam pembangunan nasional lewat kolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi RI. Kerja sama ini diwujudkan dalam program Transmigrasi Patriot, yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dan dosen ITS dalam pengembangan wilayah transmigrasi berbasis riset dan teknologi.

Program ini disampaikan langsung oleh Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, dalam kuliah tamu yang digelar di Grha Sepuluh Nopember ITS, Senin (16/6). Didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof Nurul Widiastuti PhD, Menteri Iftitah menekankan pentingnya pendekatan inklusif dan partisipatif dalam transmigrasi modern.

Transmigrasi bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, tapi sarana peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan lokal,” tegas Iftitah.

Salah satu fokus utama dalam transformasi transmigrasi saat ini adalah pelibatan akademisi melalui Transmigrasi Patriot, yang terdiri dari dua skema: Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot. ITS menjadi salah satu dari tujuh perguruan tinggi mitra nasional dalam program ini.

Melalui program tersebut, ITS membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk turun langsung ke lapangan, melakukan riset terapan, serta menciptakan solusi konkret berbasis teknologi di wilayah-wilayah transmigrasi. Langkah ini diharapkan mampu mendukung terciptanya kawasan transmigrasi yang produktif, harmonis, dan berkelanjutan.

Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menilai, kolaborasi ini sejalan dengan misi ITS sebagai kampus riset berbasis teknologi. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul di kelas, tapi juga punya pengalaman nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat,” tuturnya.

Tak hanya berbicara konsep, ITS juga memamerkan sejumlah produk inovatifnya kepada Menteri Iftitah, salah satunya adalah kendaraan listrik yang dirancang untuk mendukung kemandirian energi di daerah. Inovasi tersebut ditampilkan di Galeri Riset dan Inovasi Teknologi (GRIT) ITS.

Iftitah menambahkan, untuk memperkuat sistem transmigrasi inklusif, pemerintah kini fokus pada komersialisasi berbasis kekeluargaan dan gotong royong, dengan mendirikan badan usaha milik rakyat. Pemerintah juga mendorong pengelolaan lahan secara zonasi bersama antara transmigran dan warga lokal.

“Kolaborasi semua pihak, termasuk perguruan tinggi, menjadi kunci menciptakan transmigrasi yang adil, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Iftitah, alumnus Webster University, Kansas, AS.

ITS dan Kementerian Transmigrasi telah menandatangani sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai bentuk konkret sinergi jangka panjang. Kolaborasi ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-11 dan ke-17, yakni Kota dan Komunitas Berkelanjutan serta Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Dengan dukungan penuh dari dunia akademik, program Transmigrasi Patriot diharapkan menjadi solusi nyata untuk mempercepat pembangunan wilayah dan mencetak generasi muda yang siap mengabdi untuk negeri.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore