Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Juni 2025 | 22.43 WIB

Temuan Makanan Basi Langsung Ditelusuri, Ini Evaluasi Ketat Program MBG Setiap Hari, Targetkan 90 Juta Penerima Manfaat Tahun Ini

Direktur Dialur II Badan Gizi Nasional Komjen Pol Sony Sonjaya saat memberi pelatihan kepada relawan yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (Juliana Christy / JawaPos.com) - Image

Direktur Dialur II Badan Gizi Nasional Komjen Pol Sony Sonjaya saat memberi pelatihan kepada relawan yang bertugas di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (Juliana Christy / JawaPos.com)

JawaPos.com - Pemerintah tak main-main dalam menjaga kualitas makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan ada evaluasi ketat yang dilakukan setiap hari untuk memastikan makanan yang dibagikan benar-benar aman dan layak konsumsi.

Direktur Dialur II BGN Komjen Pol Sony Sonjaya mengungkapkan bahwa evaluasi dilakukan secara nasional dan rutin setiap sore usai pendistribusian makanan. Tujuannya untuk mendeteksi dini jika ada kendala di lapangan, termasuk temuan makanan basi.

“Evaluasi harian itu kami lakukan setiap hari. Setelah kegiatan, sorenya kami langsung zoom meeting. Kami tanya ada kendala atau tidak, ada kejadian apa, langsung kami bahas,” kata Sony saat pelatihan relawan penjamah makanan di Surabaya, Sabtu (14/6).

Ia mencontohkan evaluasi yang dilakukan saat ada laporan makanan basi. Menurutnya, penelusuran dilakukan secara rinci hingga ke tahap awal pengolahan makanan.

“Contoh ada makanan basi, kami cek menunya apa. Lalu jam berapa ikan datang, jam berapa mulai dicuci, dipotong, dimasak, sampai siap dikirim. Dicek juga, sebelum dikirim, apakah sudah dicium atau dicoba. Semua itu harus ditelusuri,” tegasnya.

Langkah ini, kata Sony, menjadi bagian dari pengawasan ketat agar kualitas makanan dalam program MBG tetap terjaga. Sebab, program ini ditujukan untuk jutaan anak dan harus dipastikan tidak menimbulkan risiko kesehatan seperti keracunan.

BGN mencatat, hingga saat ini sudah terbentuk 1.745 Satuan Pelayanan Penanggulangan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Jumlah ini telah menyerap lebih dari 65 ribu relawan penjamah makanan.

Target besar juga dicanangkan pemerintah. “Bapak Presiden menginginkan tahun ini bisa terbentuk 30 ribu SPPG, yang akan melayani sekitar 82 hingga 90 juta penerima manfaat. Itu artinya akan menyerap tenaga kerja sampai 1,5 juta orang,” jelas Sony.

Soal honor relawan, BGN juga memberi perhatian serius. Sony menegaskan bahwa tidak boleh ada relawan yang dibayar kurang dari Rp100 ribu per hari.

“Itu sudah ditekankan. Tidak boleh ada yang terima di bawah Rp100 ribu. Karena ini bukan uang dari mitra, tapi dari pemerintah. Jadi, tidak boleh ada kecurangan,” tandasnya.

Dengan sistem evaluasi harian yang ketat dan pengawasan menyeluruh, BGN berharap program MBG tidak hanya memberi gizi pada anak-anak Indonesia, tapi juga menjamin keamanan dan profesionalisme dalam setiap proses penyajian makanan.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore