
Kulit sapi dibakar dalam proses pembuatan pupuk kompos untuk taman kampung. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com - Masjid Al Musthofa di Tenggilis Mejoyo, Surabaya, memiliki cara unik dan ramah lingkungan dalam mengelola limbah hewan kurban. Seluruh bagian hewan kurban–termasuk limbah rumen–tidak dibuang sembarangan, tetapi dimanfaatkan menjadi pupuk kompos untuk taman kampung.
Pada perayaan Idul Adha 1446 H, masjid yang berada di kawasan padat penduduk itu menyembelih 11 ekor sapi dan 18 ekor kambing. Semua dagingnya dibagikan kepada lebih dari 1.500 warga di sekitar. Menariknya, seluruh bagian dari hewan kurban–mulai dari daging, kulit, tulang, hingga jeroan–dibagikan dalam kondisi setengah matang kepada penerima manfaat.
Jainudin, takmir Masjid Al Musthofa, mengatakan bahwa proses penyembelihan hingga distribusi dilakukan dengan efisien dan tetap memperhatikan kebersihan lingkungan. Limbah rumen atau isi perut hewan yang biasanya dibuang begitu saja, justru ditangani dengan cara dikubur di tanah kosong untuk diolah menjadi pupuk kandang.
"Kulit dibakar, digodok (direbus), lalu dirajang. Tulang dipotong kecil-kecil. Jeroan dibersihkan, lalu direbus setengah matang. Kotoran kami kubur dalam tanah, setelah itu diuruk. Lama-lama bisa jadi pupuk untuk taman kampung ini," terang Jainudin, Sabtu (7/6).
Langkah tersebut juga sejalan dengan imbauan Pemkot Surabaya agar limbah hewan kurban tidak dibuang ke sungai. Sebab, pembuangan limbah organik seperti rumen ke aliran air dapat memicu pencemaran. Warga pun menyambut baik pengelolaan kurban yang ramah lingkungan ini. Salah satunya adalah Rasya, warga sekitar yang mengaku rutin berkurban di Masjid Al Musthofa.
"Dari tahun ke tahun di sini pengelolaannya bagus. Daging dibagi dalam kondisi setengah matang, semua tertata rapi. Saya senang karena lingkungan juga tetap bersih," ujar Rasya.
Sementara itu, pakar lingkungan dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Moch. Shofwan, mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, rumen yang dibuang ke sungai bisa meningkatkan kadar bakteri berbahaya, termasuk E. coli, yang berisiko mencemari air sungai.
"Kalau dibuang sembarangan, terutama ke sungai, rumen bisa merusak ekosistem. Sungai jadi tercemar, air tak layak konsumsi atau digunakan mandi, bahkan bisa menimbulkan penyakit," kata Shofwan.
Shofwan menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah untuk menyediakan tempat pembuangan sementara yang layak agar masyarakat tidak kesulitan mengelola limbah kurban dengan benar.
Dengan inovasi pengelolaan seperti yang dilakukan Masjid Al Musthofa, perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi, tetapi juga menjadi contoh praktik ramah lingkungan yang bisa ditiru oleh masjid-masjid lainnya di Surabaya maupun daerah lain.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
