Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com-Jawa Timur mencatatkan prestasi membanggakan dalam penanganan stunting. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI pada 26 Mei 2025, prevalensi stunting di Jatim turun signifikan menjadi 14,7 persen. Angka ini menempatkan Jatim sebagai provinsi terbaik kedua secara nasional, tepat di bawah Bali (8,7 persen), dan terbaik pertama di Pulau Jawa.
Baca Juga: 223 Pejabat Surabaya Dilantik di Momen HJKS ke-732, Eri Cahyadi: Birokrasi untuk Pelayanan Publik
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi terhadap seluruh elemen yang terlibat dalam menurunkan angka stunting di wilayahnya. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong percepatan penurunan stunting hingga mencapai target nol kasus baru.
“Alhamdulillah, angka stunting kita turun dari 17,7 persen di 2023 menjadi 14,7 persen di 2024. Ini buah dari kerja keras dan kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah daerah, lembaga kesehatan, maupun organisasi masyarakat,” ujar Khofifah, Rabu (28/5).
Meski capaian ini tergolong tinggi, Khofifah menegaskan perjuangan belum selesai. Ia menargetkan Jawa Timur ke depan benar-benar bebas dari kasus stunting baru atau zero stunting.
“Ini bukan garis akhir. Justru menjadi semangat baru agar semua pihak semakin solid. Kita ingin tidak ada lagi anak-anak yang mengalami stunting di Jatim,” tambahnya.
Dari data SSGI 2024, tercatat 22 kabupaten/kota di Jawa Timur atau sekitar 71 persen berhasil menurunkan angka stunting. Namun, masih ada sembilan daerah yang mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.
Menurut Khofifah, capaian ini tidak lepas dari berbagai langkah intervensi yang dilakukan Pemprov Jatim bersama seluruh pemangku kepentingan. Di antaranya adalah program pemantauan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), serta Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) untuk mendorong pola makan sehat.
Ia juga menyebut pentingnya peran aktif berbagai elemen masyarakat, mulai dari Dinas Kesehatan, TP PKK, organisasi perempuan seperti Muslimat NU, Fatayat NU, Aisyiyah, hingga mitra pembangunan seperti UNICEF dan institusi pendidikan.
“Tidak mungkin capaian ini lahir dari kerja satu pihak. Ini hasil sinergi semua lapisan masyarakat. Karena itu, apresiasi saya sampaikan untuk seluruh yang terlibat,” ucap mantan Menteri Sosial tersebut.
Khofifah berharap, tren positif ini dapat membuka jalan bagi penurunan yang lebih tajam di tahun-tahun mendatang. Terlebih, ia menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka stunting menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Anak-anak kita berhak tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi pemimpin masa depan. Itulah misi besar kita bersama,” tuturnya. (*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
