Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Mei 2025 | 06.03 WIB

Keluarga Siswa SMPK Angelus Custos Surabaya yang Tewas Tersetrum Tolak Otopsi, Sekolah Sebut Insiden di Rooftop Murni Kecelakaan

Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran Tjandra Sridjaja (tengah) menyampaikan insiden yang menewaskan Steven murni kecelakaan. (Juliana Christy/JawaPos.com) - Image

Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran Tjandra Sridjaja (tengah) menyampaikan insiden yang menewaskan Steven murni kecelakaan. (Juliana Christy/JawaPos.com)

JawaPos.com - Pihak keluarga Steven Suka Hariyadi, siswa SMPK Angelus Custos Surabaya yang meninggal dunia setelah tersengat listrik di rooftop SMAK Frateran, menolak permintaan otopsi dari pihak rumah sakit.

Penolakan tersebut didasarkan pada keyakinan agama yang dianut oleh keluarga korban, yakni Konghucu, yang melarang proses bedah mayat atau otopsi.

"Pihak rumah sakit sempat menawarkan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Steven. Namun, keluarga korban menolak dengan alasan agama mereka tidak memperbolehkan bedah-bedah atau otopsi," kata Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran Tjandra Sridjaja, Sabtu (10/5).

Pihak sekolah, lanjut Tjandra, turut mengawal proses evakuasi jenazah Steven dari RS Adi Husada Undaan hingga ke Adi Jasa. 

Tjandra menuturkan bahwa para guru dan kepala sekolah mendampingi sejak dari rumah sakit hingga jenazah dimasukkan ke ruang pendingin, dimasukkan ke peti, hingga ke tempat persemayaman. "Saat itu semua berjalan dengan lancar dan tanpa masalah," ujarnya.

Terkait pengamanan sekolah pada hari kejadian, Tjandra menjelaskan bahwa pada hari kejadian seluruh akses sekolah ditutup karena bertepatan dengan libur Nyepi.

Meski begitu, ada petugas keamanan yang berjaga dan melakukan patroli rutin setiap jam untuk memeriksa kondisi kelas dan area sekitar. "Pengamanannya tentu semua ditutup. Ada security. Security itu tiap jam harus keliling, memeriksa kelas-kelas," ungkap Tjandra.

Tjandra juga mengungkapkan bahwa pihak sekolah tetap membuka ruang komunikasi dengan keluarga korban. Rencananya, pertemuan antara sekolah dan ayah korban, Tanu, dijadwalkan pada 13 Mei mendatang.

"Mudah-mudahan nanti tanggal 13, kalau Pak Tanu jadi ketemu saya, jam 6, jam 7 sore. Mudah-mudahan, tetap kita menjadi satu keluarga besar Frateran," ucapnya.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi titik terang bagi kedua belah pihak untuk saling memahami. Mengingat kakak dari Steven saat ini masih bersekolah di SMAK Frateran.

"Mudah-mudahan bisa terjalin dengan baik. Dan mungkin karena emosi, emosinya juga sudah bisa reda. Supaya lebih berlogika, di dalam menjalani kehidupan ini," ujarnya penuh harap.

Sekolah menyatakan siap mengikuti proses hukum jika memang ditempuh oleh keluarga korban.

Kendati demikian, Tjandra menegaskan bahwa dari hasil pengamatan CCTV dan keterangan yang dimiliki, tidak ditemukan indikasi adanya unsur pidana. "Ini murni kecelakaan, bukan kelalaian pihak sekolah," imbuhnya.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore