
Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran Tjandra Sridjaja (tengah) menyampaikan insiden yang menewaskan Steven murni kecelakaan. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pihak keluarga Steven Suka Hariyadi, siswa SMPK Angelus Custos Surabaya yang meninggal dunia setelah tersengat listrik di rooftop SMAK Frateran, menolak permintaan otopsi dari pihak rumah sakit.
Penolakan tersebut didasarkan pada keyakinan agama yang dianut oleh keluarga korban, yakni Konghucu, yang melarang proses bedah mayat atau otopsi.
"Pihak rumah sakit sempat menawarkan otopsi untuk mengetahui penyebab pasti meninggalnya Steven. Namun, keluarga korban menolak dengan alasan agama mereka tidak memperbolehkan bedah-bedah atau otopsi," kata Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni (IKA) Frateran Tjandra Sridjaja, Sabtu (10/5).
Pihak sekolah, lanjut Tjandra, turut mengawal proses evakuasi jenazah Steven dari RS Adi Husada Undaan hingga ke Adi Jasa.
Tjandra menuturkan bahwa para guru dan kepala sekolah mendampingi sejak dari rumah sakit hingga jenazah dimasukkan ke ruang pendingin, dimasukkan ke peti, hingga ke tempat persemayaman. "Saat itu semua berjalan dengan lancar dan tanpa masalah," ujarnya.
Terkait pengamanan sekolah pada hari kejadian, Tjandra menjelaskan bahwa pada hari kejadian seluruh akses sekolah ditutup karena bertepatan dengan libur Nyepi.
Meski begitu, ada petugas keamanan yang berjaga dan melakukan patroli rutin setiap jam untuk memeriksa kondisi kelas dan area sekitar. "Pengamanannya tentu semua ditutup. Ada security. Security itu tiap jam harus keliling, memeriksa kelas-kelas," ungkap Tjandra.
Tjandra juga mengungkapkan bahwa pihak sekolah tetap membuka ruang komunikasi dengan keluarga korban. Rencananya, pertemuan antara sekolah dan ayah korban, Tanu, dijadwalkan pada 13 Mei mendatang.
"Mudah-mudahan nanti tanggal 13, kalau Pak Tanu jadi ketemu saya, jam 6, jam 7 sore. Mudah-mudahan, tetap kita menjadi satu keluarga besar Frateran," ucapnya.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat menjadi titik terang bagi kedua belah pihak untuk saling memahami. Mengingat kakak dari Steven saat ini masih bersekolah di SMAK Frateran.
"Mudah-mudahan bisa terjalin dengan baik. Dan mungkin karena emosi, emosinya juga sudah bisa reda. Supaya lebih berlogika, di dalam menjalani kehidupan ini," ujarnya penuh harap.
Sekolah menyatakan siap mengikuti proses hukum jika memang ditempuh oleh keluarga korban.
Kendati demikian, Tjandra menegaskan bahwa dari hasil pengamatan CCTV dan keterangan yang dimiliki, tidak ditemukan indikasi adanya unsur pidana. "Ini murni kecelakaan, bukan kelalaian pihak sekolah," imbuhnya.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
