Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 April 2025 | 05.29 WIB

Sejarah Kya-Kya Kembang Jepun Surabaya: Dari Pusat Kuliner hingga Jejak Prostitusi Masa Kolonial

Kya-Kya Kembang Jepun yang penuh sejarah (Dok. YouTube Submaxi Channel)

JawaPos.com - Kya-Kya Kembang Jepun, sebuah kawasan bersejarah di Surabaya, menyimpan kisah yang begitu menarik dan penuh lapisan sejarah.

Dikenal sebagai pusat kuliner dan hiburan malam di awal abad ke-21, Kya-Kya sebenarnya lebih dari sekadar tempat menikmati makanan lezat.

Di balik kemegahannya, kawasan ini menyimpan jejak masa lalu yang kelam dan penuh dengan kisah prostitusi pada era kolonial, terutama pada masa pemerintahan Belanda dan Jepang.

Kini, meskipun Kya-Kya tidak lagi seramai dulu, warisan budaya dan sejarah yang terkandung di dalamnya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kota Surabaya.

Mengutip dari YouTube 4 News Goo, artikel ini akan mengungkapkan bagaimana Kya-Kya Kembang Jepun berkembang dari sebuah tempat hiburan menjadi saksi bisu perubahan zaman.

1. Kya-Kya: Gerbang Wisata Kuliner dan Hiburan di Surabaya

Kya-Kya Kembang Jepun sempat menjadi destinasi utama wisata malam yang diresmikan pada tahun 2003. Kata "Kya-Kya" berasal dari bahasa Hokkien yang berarti "jalan-jalan".

Di sepanjang jalan ini, berdiri gapura besar dengan dekorasi naga dan singa yang mencerminkan nuansa oriental. Kya-Kya dirancang untuk menjadi pusat kuliner terbuka yang menyajikan beragam makanan khas Tionghoa dan lokal.

Tercatat sekitar 87 kios beroperasi di awal pembukaannya, dan jumlah ini meningkat menjadi lebih dari 100 pada tahun berikutnya.

Tidak hanya menyajikan makanan, pengunjung juga dimanjakan dengan pertunjukan budaya seperti barongsai, musik tradisional, hingga kesenian khas Surabaya.

2. Penyebab Kya-Kya Surabaya Meredup

Sayangnya, kejayaan Kya-Kya tidak bertahan lama. Sejak 2005, kawasan ini mulai kehilangan pengunjung dan secara bertahap meredup.

Beberapa faktor yang disebut sebagai penyebab kemunduran Kya-Kya antara lain harga makanan yang dirasa terlalu mahal, sulitnya akses parkir bagi pengunjung, hingga kurangnya fasilitas penunjang ketika hujan turun.

Selain itu, adanya penutupan akses ke Masjid Ampel juga menimbulkan kesan mistis dan membuat sebagian masyarakat enggan datang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore