Kepadatan penduduk di kawasan Putat Jaya picu masalah perkotaan seperti genangan dan minim RTH. (Juliana Christy/JawaPos.com)
JawaPos.com-Putat Jaya dikenal sebagai salah satu kawasan paling padat di Surabaya Selatan. Di kelurahan yang berada di Kecamatan Sawahan ini, tiga RW menampung ribuan kepala keluarga. RW 8 menjadi yang terpadat dengan 5.877 jiwa, disusul RW 2 dan RW 3 yang juga sama padatnya.
Secara keseluruhan, jumlah penduduk di Putat Jaya mencapai lebih dari 44 ribu jiwa yang tersebar di 11 RW. Menurut Lurah Putat Jaya Bryan Ibnu, tingginya angka ini disebabkan karena wilayah Putat Jaya memang paling luas dibanding kelurahan lain di Sawahan. “Karena luas, otomatis jumlah penduduknya juga banyak,” kata Bryan kepada JawaPos.com.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah keberadaan eks lokalisasi Dolly di masa lalu. Setelah ditutup, banyak warga yang memilih menetap di sekitar kawasan tersebut.
Tinggal di kawasan padat bukan tanpa tantangan. Salah satu masalah yang kerap dikeluhkan warga adalah genangan air saat hujan turun deras. Beberapa titik rawan genangan berada di Jalan Jarak Timur dan sekitar kantor kelurahan. “Karena saluran besar ada di Kembang Kuning, air dari pemukiman harus nunggu giliran masuk saluran. Jadi, genangan nggak bisa dihindari,” jelas Bryan.
Kondisi jalan lingkungan pun tak semuanya mulus. Masih ada jalan-jalan kecil yang rusak atau bergelombang. Meski begitu, pihak kelurahan rutin mengusulkan perbaikan ke dinas terkait.
Dari sisi fasilitas umum, Putat Jaya terbilang cukup lengkap. Sudah ada puskesmas, lapangan olahraga, hingga penerangan jalan umum (PJU). Namun, satu fasilitas penting yang masih jadi kebutuhan mendesak adalah sekolah menengah atas (SMA). “SMA belum ada di sini. Warga berharap ada pembangunan sekolah lanjutan agar anak-anak bisa sekolah lebih dekat,” tambahnya.
Ruang terbuka hijau (RTH) juga menjadi tantangan. Hampir seluruh lahan digunakan untuk permukiman. Untuk menyiasati minimnya ruang hijau, kelurahan mendorong program tanaman dalam pot (tambulapot) dan tanaman obat keluarga (toga). “Kalau ada lahan kosong sedikit, langsung kami tanami,” ujar Bryan.
Meski dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, warga Putat Jaya dikenal aktif dan kreatif. Berbagai program pemberdayaan terus digalakkan. Mulai dari rumah batik, kegiatan UMKM, sampai bank sampah yang tersebar hampir di semua RW. “Saat ini ada sekitar 30 bank sampah aktif dan lebih dari 50 pelaku UMKM. Potensi warganya luar biasa,” tegas Bryan.
Dengan segala dinamika itu, Putat Jaya menjadi potret nyata tantangan kawasan padat di kota besar. Pemerintah kelurahan pun berharap ada kerja sama berkelanjutan dengan Pemkot Surabaya untuk terus meningkatkan kualitas hidup warganya. (*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
