Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Januari 2025 | 01.46 WIB

Khidmat dan Sakral, Prosesi Tahbisan Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo Sebagai Uskup Surabaya

Prosesi penumpangan tangan sebagai simbol penerimaan Roh Kudus dan peneguhan jabatan sebagai uskup. (Ahmad Khusaini / Jawa Pos) - Image

Prosesi penumpangan tangan sebagai simbol penerimaan Roh Kudus dan peneguhan jabatan sebagai uskup. (Ahmad Khusaini / Jawa Pos)

JawaPos.com – Keuskupan Surabaya menyaksikan momen sakral dalam prosesi tahbisan Uskup baru, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, di Auditorium Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Rabu (22/1). Prosesi tahbisan ini menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah dimulai sehari sebelumnya dengan Vesper Agung sebagai persiapan.

Romo Agustinus Ferdian Dwi Prasetyo, juru bicara panitia, menjelaskan bahwa prosesi tahbisan ini mengikuti tradisi Gereja Katolik yang telah berlangsung selama berabad-abad. "Pentahbisan Uskup adalah peristiwa penting karena menandai peralihan kepemimpinan secara resmi dalam suksesi apostolik," ujarnya.

Tahbisan dimulai setelah pembacaan Injil, di mana Romo Didik, sapaan akrab Mgr. Agustinus sebelum ditahbiskan, maju ke depan didampingi dua imam. Mereka memohon secara resmi kepada Penahbis Utama, Mgr. Piero Pioppo, Nunsio Apostolik untuk Indonesia, agar Romo Didik ditahbiskan menjadi uskup.

Dalam dialog yang menjadi bagian penting dari prosesi, Mgr. Piero bertanya, "Bersediakah engkau dengan bantuan Roh Kudus, melaksanakan sampai mati tugas yang dipercayakan? Bersediakah engkau dengan setia selalu mewartakan Injil Kristus?" Romo Didik menjawab dengan lantang, "Saya bersedia."

Setelah itu, surat mandat resmi dari Vatikan yang menyatakan pengangkatan Romo Didik sebagai Uskup dibacakan di hadapan publik. "Surat ini menjadi tanda sah bahwa Romo Didik telah mendapatkan mandat langsung dari Tahta Suci," jelas Romo Ferdian.

Prosesi dilanjutkan dengan Litani Roh Kudus, di mana Mgr. Agustinus berlutut dalam doa. Bagian paling sakral dalam tahbisan adalah penumpangan tangan oleh para uskup yang hadir, dimulai dari Mgr. Piero Pioppo sebagai Penahbis Utama. Penumpangan tangan ini menjadi simbol penerimaan Roh Kudus dan peneguhan jabatan sebagai uskup.

Setelah penumpangan tangan, atribut resmi uskup dikenakan kepada Mgr. Agustinus. Mitra sebagai lambang kewibawaan, cincin sebagai simbol perjanjian dengan Gereja, dan tongkat pastoral sebagai tanda gembala umat disematkan satu per satu.

Prosesi ditutup dengan pengantaran Mgr. Agustinus ke kursi jabatan di katedral sebagai tanda dimulainya masa pelayanannya. Momen ini diiringi dengan salam persaudaraan dari para uskup yang hadir, menandai berakhirnya seluruh rangkaian prosesi tahbisan.

"Pentahbisan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi pengukuhan spiritual. Ini adalah momen sakral yang menunjukkan hubungan langsung antara Gereja lokal dan Tahta Suci," pungkas Romo Ferdian.

Dengan resminya Mgr. Agustinus sebagai Uskup Keuskupan Surabaya, umat Katolik diharapkan terus memperkuat persatuan dalam iman dan melanjutkan misi Gereja untuk melayani masyarakat.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore