Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 November 2023 | 19.13 WIB

Dinkes Pantau Kondisi Pasien MonkeyPox di Surabaya, Ada Riwayat Perjalanan dari Luar Kota

Cacar monyet atau monkeypox. - Image

Cacar monyet atau monkeypox.

JawaPos.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya memastikan satu orang yang terjangkit monkey pox atau cacar monyet bukan warga asli Surabaya. Dari hasil penelusuran, pasien itu sempat tinggal di wilayah tempat penyakit tersebut kali pertama muncul.

Kepala Dinkes Surabaya Nanik Sukristina menyatakan bahwa kasus cacar monyet di Surabaya itu merupakan kasus lintas wilayah. Pasien bukan warga metropolis dan tidak berdomisili di Surabaya.

Namun, pasien pernah tinggal di daerah tempat cacar monyet kali pertama muncul. ”Riwayat terakhir pasien memang dari daerah itu,” ucapnya.

Menurut Nanik, keadaan pasien baik. Setiap hari kondisinya dipantau puskesmas. Dinkes sudah memberikan perawatan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Sayangnya, Nanik enggan menyampaikan puskesmas tempat pasien itu dirawat serta identitas orang tersebut.

”Kami pastikan (pasien) telah mendapatkan penanganan,” jelasnya.

Meski tidak menyebabkan kematian, cacar monyet bisa memicu gangguan pada tubuh. Di antaranya, gangguan penglihatan, buang air kecil, dan buang air besar (BAB). Apabila tidak cepat mendapatkan penanganan medis, aktivitas pasien akan terganggu.

”Secara medis sebenarnya hal yang ringan karena tidak menyebabkan kematian, tapi tetap harus diwaspadai,” terang Nanik.

Menurut Nanik, ada beberapa kelompok yang rentan terpapar penyakit itu. Misalnya, bayi, anak-anak, orang yang kontak erat dengan orang yang terinfeksi, orang yang kontak rutin dengan hewan terinfeksi, serta tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien.

’’Kami terus memantau. Kami juga melibatkan lintas sektor untuk memberikan layanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ada beberapa upaya yang dilakukan dinkes untuk mengantisipasi persebaran cacar monyet di Surabaya. Pertama, menerbitkan surat edaran pada Oktober lalu. Petugas dinkes juga mengamati laporan kesehatan berbasis kejadian melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Selain itu, menggelar penyelidikan epidemiologi, sosialisasi, penyebarluasan informasi, serta komunikasi risiko. ”Kami juga tetap memantau di lingkup global maupun nasional,” jelas Nanik.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sidosermo dr Arista Agung Santoso mengatakan, hingga kini belum ada temuan kasus monkey pox di wilayahnya. Setiap hari petugas puskesmas turun ke wilayah untuk menggelar sosialisasi penyakit itu.

Menurut Arista, warga belum terlalu memahami monkey pox. Sebab, penyakit itu jarang ditemui. ”Biasanya setelah sosialisasi, warga akan lebih paham. Kami ajak warga untuk sama-sama mencegah persebaran monkey pox,” ucapnya. (dho/c6/aph)

UPAYA PREVENTIF AGAR TIDAK TERKENA MONKEY POX

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore