Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 November 2023 | 01.44 WIB

Cerita Wisudawan STIDKI Terbaik Raih Beasiswa S2 di Tripoli dan Perjuangan di Perbatasan Indonesia Timor Leste

Wisudawan ke-4 STIDKI. Total 55 mahasiswa yang lulus di antaranya 33 wisudawan akademik dan 22 wisudawan Alquran. - Image

Wisudawan ke-4 STIDKI. Total 55 mahasiswa yang lulus di antaranya 33 wisudawan akademik dan 22 wisudawan Alquran.

JawaPos.com–Ada cerita bahagia dari perbatasan Indonesia-Timor Leste. Cerita itu dibagikan salah satu wisudawan asal Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar Rahmah di Surabaya.

STIDKI meluluskan puluhan wisudawan yang ke-4. Total sebanyak 55 mahasiswa yang lulus di antaranya 33 wisudawan akademik dan 22 wisudawan Alquran.

Mereka resmi menyandang gelar sarjana dan sekaligus pengukuhan yang digelar di Dyandra Convention Center Surabaya, pada Sabtu (11/11). Acara wisudawan STIDKI itu juga dihadiri Ustad Adi Hidayat yang memberikan beasiswa S2 kepada 5 lulusan terbaik. Di antaranya 3 wisudawan akademik dan 4 wisudawan Alquran.

”Saya sampaikan selamat kepada citivas akademika STIDKI Ar Rahmah karena sudah berhasil melahirkan dai, ulama, dan imam, terbaik di zaman ini,” kata Ustad Adi Hidayat.

STIDKI juga telah meluluskan salah satu mahasiswa yang merupakan wisudawan terbaik dari program studi Manajemen Dakwah Ahmad Fadlan Rizki. Fadlan yang memiliki IPK 3,79 itu pun menceritakan pengalaman ketika berkunjung di Atambua.

Atambua adalah kawasan yang merupakan perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Kala itu, pertama tiba di Atambua, Fadlan berkenalan dengan penduduk di sana. Dia mengungkapkan, banyak dari masyarakat yang memutuskan untuk menjadi mualaf.

”Saya dapatkan amanah untuk berkhidmat di ujung negeri di Atambua perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Saya berkenalan dan banyak orang dan saudara-saudara mualaf,” kata Fadlan.

Sayangnya, lanjut Fadlan, setelah menjadi mualaf masyarakat tidak dipupuk secara keimanan sehingga menyebabkan lupa akan syahadat. Hal itu yang membuat Ahmad bergerak untuk melakukan perubahan. Dia memutuskan untuk membuat program pembinaan bagi mualaf. Salah satunya membaca Alquran.

”Sekarang telah banyak yang bisa membaca Alquran dari ibu-ibu mualaf tersebut. Alhamdulillah ada yang masih Iqro 6, masih Iqro 5, tapi walillahilham ini merupakan karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Pengalaman saya selama sekian bulan di Atambua,” ungkap Fadlan.

Sementara itu, Ketua STIDKI Ar Rahmah Shobikhul Qisom menambahkan, wisudawan harus berkontribusi positif dalam pembangunan Indonesia dan Islam. ”Ini telah diterapkan wisudawan, bahkan sebelum menjadi sarjana,” ucap Shobikhul Qisom.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore