
Para korban rumah ambruk di Jalan Kapasari sudah mediasi dengan pihak-pihak terkait. Perbaikan diharapkan selesai dalam 1 bulan.
JawaPos.com–Lurah Kapasari Surabaya Ridzotullahmad Nurchakim mengatakan, sudah melakukan mediasi dengan para korban rumah ambruk di Jalan Kapasari Surabaya. Mediasi itu didampingi dan disaksikan Polsek Genteng, kelurahan, dan kontraktor.
”Alhamdulillah sudah mediasi antara korban rumah roboh, kontraktor dan juga pihak PU, kelurahan, kecamatan, Kapolsek Genteng, kontraktor, dan juga babinkantibnas serta ketua RW. Sama-sama menyaksikan solusinya,” kata Lurah Kapasari Surabaya Ridzotullahmad Nurchakim.
Edo sapaan akrab Lurah Kapasari Surabaya Ridzotullahmad Nurchakim itu menyatakan, kontraktor sanggup membangun kembali rumah yang roboh sesuai kondisi semula. Diupayakan paling lambat 1 bulan setelah mediasi hari ini (5/9).
Selain rumah pengganti, di dalam rumah ada material rusak sebagai mata pencaharian sehingga selama perbaikan tidak bisa bekerja. Edo menyatakan, dua permohonan dikomunikasikan kembali dengan pihak kontraktor.
”Melalui PU berkoordinasi dinas terkait untuk relokasi tempat jualan sementara di sekitar situ,” ujar Ridzotullahmad Nurchakim.
Lantas, apakah Pemkot Surabaya bakal melakukan relokasi? Edo menyampaikan, masih melakukan koordinasi karena kebetulan sektor perdagangan sudah penuh. Tidak ada tempat.
Solikin, salah satu pemilik bangunan di Jalan Kapasari 63 ABC Surabaya, tak bisa mengucapkan banyak kata. Dia dan istrinya, Naimah, kaget setelah tempat tinggalnya selama lebih kurang 15 tahun itu tiba-tiba roboh, Selasa (5/9).
Solikin mengungkapkan, dirinya merasakan bangunan rumahnya bergetar sekitar pukul 22.00.
”Saya intip keluar rumah dan melihat posisi ekskavator tepat di depan pintu rumah,” ungkap Solikin, warga Kapasari Surabaya itu.
Bangunan rumah yang berukuran lebih kurang 15x5 meter persegi itu roboh karena pengerjaan proyek gorong-gorong saluran air atau box culvert. Sekitar pukul 00.00, tiba-tiba suara keras diiringi atap roboh menimpa Naimah dan suaminya.
Naimah mengungkapkan, sebelum bangunan itu roboh, dirinya dan suami sempat merasakan getaran imbas dari pengurasan air yang dilakukan petugas proyek.
”Tiba-tiba langsung ambruk jam 12 malam. Kepala saya ketindihan salon (pengeras suara),” imbuh Naimah.
Saat ini, untuk sementara waktu, keduanya mengungsi ke rumah mertua yang tak jauh dari rumahnya sekarang. Lantas, untuk barang dagangan yang dimilikinya dititipkan kepada temannya. Untuk membuat dapurnya mengepul, setiap hari, dia berjualan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
