Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 25 Juli 2023 | 18.03 WIB

Meski Belum Genap Setahun Jadi Warga Surabaya, Pemkot Tak Tutup Mata Beri Intervensi Keluarga Chintya

Kondisi gang sempit menuju rumah Chintya, remaja di Surabaya yang berjualan peyek dengan merangkak. - Image

Kondisi gang sempit menuju rumah Chintya, remaja di Surabaya yang berjualan peyek dengan merangkak.

JawaPos.com–Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberikan perhatian serius terhadap permasalahan sosial warga. Salah satu bentuk perhatian itu diberikan kepada keluarga Chintya Afrianti Amala, 17, warga Kendangsari Gang 7 Sekolahan, Surabaya.

Sebelumnya, video Chintya sempat viral di media sosial (Medsos) TikTok. Dalam video yang beredar, Chintya terlihat berjalan merangkak di pinggir jalan raya sembari berjualan peyek yang dikalungkan di lehernya.

”Sedih banget liat anak itu jual peyek, nyeret badannya, kakinya sampe lecet berdarah,” tulis narasi dalam video yang diunggah akun Tiktok @kisahharuhariini.

Mewakili Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Erna Purnawati bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) M. Fikser mendatangi rumah keluarga Cyntya di Jalan Kendangsari Gang 7 Sekolahan, Surabaya, Rabu (19/7) malam. Kedua pejabat itu didampingi Camat Tenggilis Mejoyo Wawan Windarto dan Lurah Kendangsari Surabaya Wisnu Wibowo.

Chintya Afrianti Amala mengaku, jika video yang viral di medsos diambil sekitar Maret 2023 di kawasan RSUD Soetomo Surabaya. Video itu diambil orang yang mengaku dari komunitas sosial.

”Video itu Maret 2023 di Jalan Petojo, dekat kawasan RSUD Soetomo Surabaya,” kata Chintya saat ditemui di rumahnya, Rabu (19/7) malam.

Menurut dia, komunitas itu menawarkan untuk membantu keluarga. Dengan cara, yakni memviralkan Chintya melalui media sosial agar mendapat simpati dan bantuan dari masyarakat.

”Awalnya ditawari, katanya biar banyak orang yang donasi, bantu,” ujar Chintya yang memiliki keterbatasan pada kedua kakinya itu.

Sumiyati, 47, atau Ibunda Chintya pun mengaku tidak berani melihat video anaknya yang viral di medsos tengah merangkak berjualan peyek di pinggir jalan raya. Menurut dia, video anaknya itu seperti dibuat terlalu mendramatisir dan berlebihan.

”Diberi tahu tetangga, saya dan Chintya sampai sekarang tidak berani melihat videonya, sampai segitunya, nangis saya, terlalu berlebihan. Saya minta maaf karena videonya viral, minta maaf juga kepada Pak Lurah,” ujar Sumiyati.

”Memang kalau Hari Raya Idul Fitri, puasa, saya bikin peyek. Awalnya jualan di Rumah Sakit Nginden, karena Chintya terapi di RSUD Soetomo, akhirnya coba-coba jualan di sana. Tapi kalau sekarang, saya ikut kerja cabut benang di konveksi,” sambung dia.

Sumiyati lantas bercerita, dia bersama suaminya Andi Siswoto, 49, merupakan warga asli Mojokerto. Sekitar 12 tahun yang lalu, dia bersama suami dan kedua anaknya memilih tinggal di kos dekat rumah saudara di kawasan Kendangsari, Surabaya. Meski sudah lama tinggal di Kota Pahlawan, Sumiyati, belum pindah KK Surabaya.

”Karena memang tidak punya rumah, di Surabaya ini saya ngekos, makanya saya bingung,” papar Sumiyati.

Nah, ketika Cyntya ingin masuk SMA negeri, Sumiyati berinisiatif menitipkan anaknya itu masuk KK budenya di Jalan Kendangsari Gang Lebar No 102B Surabaya pada Agustus 2022. Sementara Sumiyati bersama suami dan anak nomor tiga, administrasi kependudukannya masih berstatus warga Mojokerto.

”Karena belum satu tahun masuk KK Surabaya, Chintya tidak diterima SMA negeri. Akhirnya itu ditawari sama Pak Lurah sekolah PKBM paket C (Januari 2023), tapi Cyntya menolak, tidak mau bersekolah. Kalau sekarang Chintya sudah mau sekolah kejar Paket C,” kata Sumiyati.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore