Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2023 | 23.55 WIB

Mengawali Tahun Ajaran Baru, Gresik Gelorakan Kampanye Stop Tiga Dosa Besar Pendidikan

Bupati Fandi Akhmad Yani (kanan) dan Anggota Komisi X DPR RI Prof Zainuddin Maliki menjadi narasumber dalam seminar tiga dosa besar pendidikan yang digelar PWI-Dispendik Gresik di GNI,  Senin (17/7). - Image

Bupati Fandi Akhmad Yani (kanan) dan Anggota Komisi X DPR RI Prof Zainuddin Maliki menjadi narasumber dalam seminar tiga dosa besar pendidikan yang digelar PWI-Dispendik Gresik di GNI, Senin (17/7).

JawaPos.com- Anak-anak didik kembali ke sekolah setelah libur panjang. Hari ini (17/7), siswa-siswi baru menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Momentum ini dimanfaatkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Gresik untuk mengkampanyekan stop tiga dosa besar pendidikan.  

Ketiga dosa besar pendidikan tersebut adalah kekerasan seksual, bullying (perundungan), dan intoleran. Sejauh ini, ketiga dosa besar itu masih menjadi momok anak didik. Hadir sebagai narasumber Anggota Komisi X DPR RI Prof Zainuddin Maliki, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, dan Wabup Gresik Aminatun Habibah. Mendikburistek Nadiem Makarim hadir virtual.

Bertempat di GNI Jalan Pahlawan Gresik, kegiatan positif itu dihadiri ratusan peserta. Mereka merupakan kepala sekolah dan guru di lingkungan Dinspendik Gresik serta para anggota PWI Gresik. ‘’Media massa turut andil untuk mengkampanyekan tiga dosa pendidikan ini agar jangan sampai terjadi. Sebab, salah satu fungsi media adalah edukasi,’’ kata Deni Ali Setiono, ketua PWI Gresik.

Dalam paparannya, Nadiem mengapresiasi kolaborasi PWI dan Dispendik Gresik tersebut. Alumnus Harvard Univesity itu menegaskan, tema ini sangat penting untuk terus dibahas dan didiskusikan oleh semua pemangku kepentingan. ’’Hampir setiap hari kita melihat berita pelajar menjadi korban perundungan, pelecehan seksual, dan intoleransi,” ujarnya.

Nadiem juga mengajak untuk bersama-sama menggalakkan kampanye pendidikan yang ramah. Selain itu, mengabarkan apa-apa yang sudah dilakukan pemerintah kepada masyarakat untuk menekan tiga dosa besar pendidikan tersebut. “Mari terus bergerak serentak, demi mewujudkan lingkungan pendidikan yang merdeka dan bebas dari kekerasan,” ungkapnya.

Bupati Fandi Akhmad Yani juga memberi apresiasi kegiatan tersebut. Seminar pendidikan ini menjadi dorongan bagi pemerintah daerah serta stakeholder terkait agar senantiasa mengevaluasi diri. Bagaimana menghadirkan lingkungan pendidikan yang berkualitas. Khususnya di Kabupaten Gresik.

‘’Tidak ada lagi pelecehan seksual, tidak ada lagi bullying, tidak ada lagi intoleransi. Saya sangat mengapresiasi seminar ini di momen hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru 2023/2024. Ini sebagai pengingat,” ungkapnya.

Menurut Yani, untuk menghapus tiga dosa besar pendidikan itu memang tidak mudah. Diperlukan upaya bersama antara pemerintah, lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tenaga pendidik atau guru, misalnya. Mereka harus mampu memetakan potensi anak didiknya. Karena itu, guru juga dituntut untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi. ‘’Orang tua juga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya,’’ tegas alumnus Unair itu.

Pernyataan senada disampaikan Wabup Aminatun Habibah. Namun, dia memberikan tambahan. Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi, membuat lingkungan sekolah menjadi lebih heterogen. Sekolah yang dulu dikenal favorit, kini tidak hanya diisi anak didik yang berprestasi saja. Namun, juga siswa-siswi yang bertempat tinggal di dekat sekolah.

Dengan kondisi tersebut, lanjut Wabup, guru dituntut untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya dalam mengelola kelas. Nah, lingkungan sekolah yang tidak lagi homogen itu bisa berpotensi memicu tiga doa besar pendidikan. ‘’Sehingga para pemangku kepentingan harus mampu mengelola tempat pendidikan itu dengan baik,’’ paparnya.

Prof Zainuddin Maliki menekankan pentingnya penguatan karakter dalam menekan tiga dosa pendidikan tersebut. Sekolah-sekolah jangan hanya berfokus pada penilaian literasi dan numerasi. Politikus PAN itu menyebut, akar persoalan pendidikan itu adalah karakter. ’’Nah, pembenahan karakter ini membutuhkan kemauan, kesungguhan, dan pembiasaan. Memang membutuhkan waktu, tapi pasti bisa,” jelas legislator Dapil Lamongan-Gresik itu.

Sementara itu, Kepala Dispendik Gresik S. Hariyanto menyatakan, untuk dapat menghapus tiga dosa besar pendidikan tersebut memerlukan kolaborasi dengan sejumlah pihak. Termasuk dengan media massa atau wartawan. ’’Untuk mewujudkan kabupaten layak anak (KLA), pada 2022, Alhamdulillah, Kabupaten Gresik meraih kategori Nindya atau medium. Target tahun ini dapat meraih kategori utama,” harapnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore