KALA PAGI: Warga berlari di lintasan lari lapangan Bogowonto, Sabtu (20/5). Lapangan itu menjadi salah satu alternatif warga untuk melakukan aktivitas olahraga.
JawaPos.com – Berolahraga di Surabaya kian hari kian nyaman. Jalan sehat, bersepeda, atau berlari bisa jadi pilihan warga kota. Selain kondisi jalur pedestrian yang lebar, sport enthusiast juga dimanjakan keberadaan lapangan atletik yang mumpuni.
Meski begitu, beberapa catatan menjadi masukan bagi pemkot. Mulai jam operasional lapangan yang tak menentu hingga soal keselamatan pencinta olahraga di jalan.
Salah satu lapangan yang jadi pilihan warga kota adalah Lapangan THOR. Lapangan tersebut kini kian cantik. Apalagi pasca dipoles untuk persiapan event Piala Dunia U-20 kemarin.
Sayangnya, lapangan tersebut kadang bikin pengunjung setia kecele. Misalnya, Sabtu (20/5) pagi THOR ditutup karena ada latihan Persebaya dan perawatan rumput.
Meski demikian, kondisi Lapangan THOR mendapat apresiasi dari beberapa komunitas lari. Jogging track lapangan yang ciamik membuat pelari sangat nyaman. Termasuk fasilitas pendukung lainnya. ’’Fasilitasnya oke,’’ kata Eva Nila, kapten komunitas lari Isomlayu Surabaya.
Menurut Eva, secara keseluruhan fasilitas lari di Surabaya sangat bagus. Beberapa lapangan atletik juga tersedia. Misalnya, lapangan KONI Jatim, Lapangan THOR, dan lapangan Bogowonto. Hanya, runners kerap mengeluhkan jadwal lapangan yang buka tutup. Informasi tersebut sering membuat pelari kecele.
Misalnya, operasional Lapangan THOR. Durasi buka yang kini lebih pendek membuat pelari beralih ke tempat lain. Dulu, kata Eva, Lapangan THOR beroperasi hingga pukul 21.00. Sekarang pukul 20.00 sudah tutup. Bagi pelari kantoran, hal itu cukup mengganggu. Sebab, rata-rata, sport enthusiast baru bisa berolahraga setelah pulang kerja.
Selain itu, kondisi penerangan di THOR kala matahari lenyap juga tidak ada. Akibatnya, lapangan gelap.
Captain Running Is Our Therapy (RIOT) Surabaya Budi Setiawan mengungkapkan hal yang sama. Penerangan dan jam operasional menjadi sedikit kendala. Dulu RIOT Surabaya setiap Minggu menggelar training di Lapangan THOR.
’’Kebanyakan kami kan karyawan. Jadi, larinya setelah kerja,’’ katanya Sabtu (20/5) siang.
Budi mengapresiasi fasilitas lari yang sudah diberikan pemkot. Termasuk kondisi jalur pedestrian di Surabaya yang sudah lebar. Hanya, ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki. Yakni, lantai jalur pedestrian yang kadang licin.
Budi juga mengungkapkan, bulan puasa lalu dirinya dan puluhan anggotanya lari malam. Karena jalur pedestrian di Jalan Tunjungan ramai pengunjung, mereka memilih lari di jalan. Tidak diduga, ada aspal yang tidak rata. Akibatnya, salah seorang anggotanya terjatuh, lalu cedera dan harus dibawa ke rumah sakit.
Komunitas lari juga memberi masukan untuk kondisi jalur pedestrian. Di beberapa kawasan penerangannya sangat minim. Pascapandemi, animo masyarakat untuk lari memang sangat tinggi. Mereka memilih jam setelah bekerja. Alhasil, lapangan Bogowonto menjadi jujukan mengingat di sana jam operasionalnya hingga pukul 21.00. Penerangannya juga sangat baik.
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210 ©2026 PT JAWA POS GRUP MULTIMEDIA Download Aplikasi JawaPos.com