Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 26 April 2023 | 19.01 WIB

Malam Hari Surabaya Terasa Panas, Simak Penjelasan BMKG

Ilustrasi cuaca panas. Bangkok tengah memanas. Pada Kamis (6/4) Departemen Meteorologi mencatat, indeks panas mencapai 50,2 derajat Celsius. - Image

Ilustrasi cuaca panas. Bangkok tengah memanas. Pada Kamis (6/4) Departemen Meteorologi mencatat, indeks panas mencapai 50,2 derajat Celsius.

JawaPos.com–Selama 3 hari ini, wilayah Surabaya terasa sedikit gerah. Suhu minimum harian yang tercatat dalam 3 hari terakhir rata-rata 28 derajat Celcius.

Kepala Kelompok Unit Forecaster BMKG Tanjung Perak Ady Hermanto menyatakan, kondisi gerah yang dirasakan salah satunya efek dari pelepasan panas oleh bumi ketika malam hari.

”Saat siangnya, matahari secara intens menyinari bumi tanpa dihalangi tutupan awan. Kemudian, pada saat malam hari, kondisi cuaca Surabaya dominan berawan, sehingga panas radiasi dari permukaan bumi tadi tidak terlepas bebas ke atmosfer,” jelas Ady.

Lantas, berapa suhu Surabaya pada malam hari sebelumnya? Ady mengungkapkan, suhu Surabaya sebelumnya ada di angka 25-26 derajat.

Sebelumnya, Kepala BMKG Juanda Jawa Timur Taufiq Hermawan mengatakan, suhu maksimum di wilayah Jawa Timur berkisar antara 33 - 35 derajat Celsius.

”Masih dalam kisaran normal klimatologi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” terang Taufiq.

Dia menyatakan, gelombang panas umumnya terjadi di wilayah yang berada pada lintang menengah hingga lintang tinggi, berdekatan dengan daratan yang luas seperti wilayah kontinental dan subkontinental. Sesuai Badan Meteorologi Dunia (WMO), gelombang panas atau heatwave didefinisikan sebagai periode cuaca dengan kenaikan suhu lebih dari 5 derajat Celsius dari rata-rata klimatologis suhu maksimum di suatu lokasi, selama lima hari berturut-turut atau lebih.

Secara umum, Taufiq menjelaskan, pola harian indeks UV berada pada kategori low pada pagi hari. Mencapai puncaknya di kategori high, very high, sampai extreme ketika intensitas radiasi matahari paling tinggi pada siang hari antara pukul 12.00 hingga 15.00. ”Dan bergerak turun kembali ke kategori low pada sore hari. Pola itu bergantung lokasi geografis dan elevasi suatu tempat, posisi matahari, jenis permukaan, dan tutupan awan,” ujar Taufiq.

Taufiq menambahkan, tinggi rendahnya indeks UV tidak memberikan pengaruh langsung pada kondisi suhu udara di suatu wilayah. Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, pola harian seperti itu secara rutin dapat teramati dari hari ke hari meskipun tidak ada fenomena gelombang panas.

Karena itu, Taufiq meminta agar masyarakat tidak panik menyikapi informasi yang beredar mengenai gelombang panas tersebut. ”Kami sarankan untuk mengonsumsi cukup air putih agar tidak mengalami dehidrasi, selain itu sebaiknya menggunakan pakaian tertutup atau tabir surya apabila beraktivitas di luar ruangan,” papar Taufiq.

Sementara itu, warga Surabaya Mohammad Yasak mengaku kegerahan pada malam hari. Rasa gerahnya berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Karena kegerahan, warga Surabaya itu memutuskan tidur di lantai atau di ubin. Meski begitu, Yasak tetap merasakan kegerahan.

”Ubinnya juga panas. Tapi, mending daripada tidur di atas kasur," ungkap Yasak, warga Wonokromo, Surabaya, itu.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore