JawaPos.com - Kericuhan terjadi di objek vital Bandara Internasional Juanda, Selasa (6/12) pagi. Bukan hanya di luar, melainkan juga di area boarding penumpang. Terjadi aksi tembak-menembak antara anggota Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan teroris.
Hingga akhirnya, anggota Kopaska berhasil melumpuhkan teroris. Meski hanya simulasi, semua adegan dilakukan dengan maksimal. Layaknya kejadian sungguhan.
Skenario pengamanan di objek vital tersebut ada di beberapa titik. Mulai akses masuk terminal 1 bandara hingga ruang boarding pesawat. Adegan dimulai dengan aksi unjuk rasa di gerbang masuk bandara. Situasi dibuat chaos. Massa bertindak anarkistis dan memukuli petugas.
Aksi menegangkan juga terjadi di tempat boarding penumpang. Anggota teroris hendak menyabotase bandara. Mereka pun lolos dari pemeriksaan avsec. Bahkan, baku tembak terjadi. Dalam skenario itu, satu petugas avsec menjadi korban penembakan. Dalam waktu cepat, tim pengamanan dari Lanudal Juanda langsung bereaksi.
Berkoordinasi dengan semua pihak. Termasuk dengan tim Kopaska dari Koarmada II. Hingga akhirnya, dua teroris berhasil ditangkap. Mereka dibawa ke Mapolda Jatim dengan helikopter.
Simulasi yang melibatkan semua pihak di bandara, termasuk tim medis dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya, itu dibuat sangat natural. Penumpang juga tidak diberi tahu. Alhasil, mereka pun panik, terlebih saat ada imbauan tiarap.
Indah Risiana, salah seorang penumpang, mengungkapkan, dirinya sempat takut dan waswas. Ketakutannya pun hilang saat mengetahui peristiwa itu hanya simulasi. Menurut dia, kegiatan tersebut perlu digelar rutin sehingga bisa melatih kecekatan petugas.
Danlanudal Juanda Kolonel Laut (P) Heru Prasetyo mengatakan, simulasi itu diadakan untuk pengamanan objek vital dan very very important person (VVIP). Simulasi tersebut juga dilakukan berdasar perintah dari Markas Besar TNI-AL (Mabesal). ’’Tujuannya, meyakinkan penumpang pesawat akan keamanan bandara,’’ terangnya.
Bandara Internasional Juanda adalah wilayah TNI-AL yang digunakan untuk penerbangan sipil. Dalam situasi darurat seperti ancaman teroris, pengamanan tidak hanya dilakukan Lanudal dan Puspenerbal, tapi juga pasukan Kopaska dari Koarmada II.
Kegiatan itu digelar setahun sekali. Hanya, saat pandemi sempat berhenti. Menurut Heru, simulasi bakal kembali dirutinkan sehingga bisa melatih kemampuan pasukan.





