
FOKUS: Siswa SDN Margorejo 1, Surabaya, mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka. (Frizal/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pemkot Surabaya berencana mengubah konsep jam belajar di sekolah. Hal itu bertujuan untuk memberi anak ruang kreatif yang lebih besar guna pembentukan karakter mereka. Berbagai tanggapan muncul di tengah para orang tua yang menghadapi realitas di lapangan. Kebijakan tersebut rencananya diresmikan pada 10 November.
Jam belajar akademis di sekolah yang biasanya berlangsung hingga pukul 14.00, bahkan lebih, akan dipangkas. Hanya sampai pukul 12.00, sisanya untuk pendidikan karakter.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, bila anak-anak kelebihan jam belajar, akibatnya waktu bermain dan belajar hal lain tidak maksimal. Apalagi setelah sekolah masih ada pekerjaan rumah (PR). ”Kami ingin membentuk karakter arek Suroboyo yang cerdas dan kreatif. Di satu sisi, saat mereka pulang, beban PR itu berkurang,’’ paparnya.
Tentu banyak tanggapan dari masyarakat. Salah satunya dari Indira Ellya. Ibu empat anak itu tahu betul bagaimana ”lelahnya’’ anak mereka menjalani sekolah. Berangkat pagi, pulang sore, ditambah melek malam untuk mengerjakan tugas. Dua anaknya duduk di bangku sekolah dasar, satu SMP, dan satu SMA.
”Anak saya pulang itu sudah kelihatan lemas dan sering sakit juga. Pulang paling sore jam 3 karena ada ekstrakurikuler dan lainnya. Bahkan, yang SMP waktu kelas VII dan VIII pulangnya sampai pukul 17.00,’’ paparnya.
Iin, sapaan Indira Ellya, menyebut sangat setuju dengan kebijakan itu. Tidak masalah masih ada PR. Tapi, jam sekolah tidak perlu panjang. Dengan demikian, anak-anak punya kesempatan beristirahat sejenak.
Penghapusan PR juga dikhawatirkan Suyatmi. Dia menyatakan, penghapusan PR akan membuat siswa lebih banyak waktu untuk bermain. Khususnya, bermain gadget. ”Delok en ae. Pasti nanti HP-an terus,’’ kata warga Jalan Dupak Timur, Bubutan, itu.
Dengan begitu, siswa akan lupa untuk mengulangi pelajaran di sekolah. Padahal, jika ada PR, lanjut dia, siswa bisa membuka buku pelajarannya. ”Sekarang ada PR saja anak-anak susah diminta belajar. Apalagi enggak ada PR,’’ ujar ibu dua anak itu.
Yuliana, orang tua lainnya, mengatakan bahwa dengan mengerjakan PR, ada kolaborasi antara siswa dan orang tua sebagai pendamping. Orang tua bisa menemani siswa untuk belajar di rumah. ”Tapi kalau tidak ada PR, siswa akan malas buka buku,’’ tuturnya.
Menurut dia, tugas yang diberikan guru tidak harus soal pelajaran sekolah formal. Bisa juga menugasi anak untuk mengulang pelajaran di sekolah. Pengayaan atau pengulangan di rumah perlu dilakukan agar siswa tidak lupa dengan pelajaran yang sudah diberikan guru di sekolah.
Tugas yang diberikan guru tidak boleh terhenti di sekolah. Tugas yang diberikan harus menyenangkan. Tidak boleh menjadi beban anak-anak. ”Kan bergantung guru bagaimana ngasih PR ke siswa,’’ paparnya.
Yuliana pun meminta agar kebijakan itu ditinjau kembali. Minimal mengulang pelajaran untuk persiapan sekolah keesokannya. ”Harusnya nggak saklek PR dihapus,’’ pinta perempuan 40 tahun itu.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
