Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 November 2022 | 20.48 WIB

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya: Jam Sekolah Padat, Anak Sering Sakit

FOKUS: Siswa SDN Margorejo 1, Surabaya, mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka. (Frizal/Jawa Pos) - Image

FOKUS: Siswa SDN Margorejo 1, Surabaya, mengikuti kegiatan pembelajaran tatap muka. (Frizal/Jawa Pos)

JawaPos.com – Pemkot Surabaya berencana mengubah konsep jam belajar di sekolah. Hal itu bertujuan untuk memberi anak ruang kreatif yang lebih besar guna pembentukan karakter mereka. Berbagai tanggapan muncul di tengah para orang tua yang menghadapi realitas di lapangan. Kebijakan tersebut rencananya diresmikan pada 10 November.

Jam belajar akademis di sekolah yang biasanya berlangsung hingga pukul 14.00, bahkan lebih, akan dipangkas. Hanya sampai pukul 12.00, sisanya untuk pendidikan karakter.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruh mengatakan, bila anak-anak kelebihan jam belajar, akibatnya waktu bermain dan belajar hal lain tidak maksimal. Apalagi setelah sekolah masih ada pekerjaan rumah (PR). ”Kami ingin membentuk karakter arek Suroboyo yang cerdas dan kreatif. Di satu sisi, saat mereka pulang, beban PR itu berkurang,’’ paparnya.

Tentu banyak tanggapan dari masyarakat. Salah satunya dari Indira Ellya. Ibu empat anak itu tahu betul bagaimana ”lelahnya’’ anak mereka menjalani sekolah. Berangkat pagi, pulang sore, ditambah melek malam untuk mengerjakan tugas. Dua anaknya duduk di bangku sekolah dasar, satu SMP, dan satu SMA.

”Anak saya pulang itu sudah kelihatan lemas dan sering sakit juga. Pulang paling sore jam 3 karena ada ekstrakurikuler dan lainnya. Bahkan, yang SMP waktu kelas VII dan VIII pulangnya sampai pukul 17.00,’’ paparnya.

Iin, sapaan Indira Ellya, menyebut sangat setuju dengan kebijakan itu. Tidak masalah masih ada PR. Tapi, jam sekolah tidak perlu panjang. Dengan demikian, anak-anak punya kesempatan beristirahat sejenak.

Penghapusan PR juga dikhawatirkan Suyatmi. Dia menyatakan, penghapusan PR akan membuat siswa lebih banyak waktu untuk bermain. Khususnya, bermain gadget. ”Delok en ae. Pasti nanti HP-an terus,’’ kata warga Jalan Dupak Timur, Bubutan, itu.

Dengan begitu, siswa akan lupa untuk mengulangi pelajaran di sekolah. Padahal, jika ada PR, lanjut dia, siswa bisa membuka buku pelajarannya. ”Sekarang ada PR saja anak-anak susah diminta belajar. Apalagi enggak ada PR,’’ ujar ibu dua anak itu.

Yuliana, orang tua lainnya, mengatakan bahwa dengan mengerjakan PR, ada kolaborasi antara siswa dan orang tua sebagai pendamping. Orang tua bisa menemani siswa untuk belajar di rumah. ”Tapi kalau tidak ada PR, siswa akan malas buka buku,’’ tuturnya.

Menurut dia, tugas yang diberikan guru tidak harus soal pelajaran sekolah formal. Bisa juga menugasi anak untuk mengulang pelajaran di sekolah. Pengayaan atau pengulangan di rumah perlu dilakukan agar siswa tidak lupa dengan pelajaran yang sudah diberikan guru di sekolah.

Tugas yang diberikan guru tidak boleh terhenti di sekolah. Tugas yang diberikan harus menyenangkan. Tidak boleh menjadi beban anak-anak. ”Kan bergantung guru bagaimana ngasih PR ke siswa,’’ paparnya.

Yuliana pun meminta agar kebijakan itu ditinjau kembali. Minimal mengulang pelajaran untuk persiapan sekolah keesokannya. ”Harusnya nggak saklek PR dihapus,’’ pinta perempuan 40 tahun itu.

Ajak Siswa Belajar Olahraga Tradisional


SEKOLAH-SEKOLAH di Surabaya kini mulai menerapkan program Sekolahe Arek Suroboyo (SAS). Berbagai program baru pun dibuat sekolah sebagai solusi pengganti pekerjaan rumah (PR) untuk siswa. Salah satunya, menyediakan waktu satu jam untuk dimanfaatkan guru-guru dalam pengayaan materi esensial.

Kepala SMPN 54 Surabaya Nur Qomariyah mengatakan, hampir sebulan sekolahnya menerapkan program SAS. Meski belum 100 persen, sekolah menyambut baik. Termasuk dengan meniadakan PR bagi siswa. Jadi, seluruh pembelajaran dituntaskan di sekolah.

’’Memang anak-anak akan merasa monoton jika seharian pembelajaran. Jadi, kami membuat beberapa program,” katanya. Nur menjelaskan, pukul 06.30–12.00 difokuskan untuk pembelajaran. Kemudian, setelah pukul 12.00, dibuat jadwal-jadwal yang dapat mengakomodasi semua kebutuhan siswa.

Bahkan, siswa juga sudah memilih peminatan masing-masing.

’’Jadi, anak-anak merasa senang, tetapi tidak menghilangkan materi esensial dan tetap mengacu pada pembelajaran,” ujarnya.

Salah satu peminatan tersebut adalah olahraga tradisional yang masuk mata pelajaran olahraga. Para siswa yang memilih olahraga tradisional akan diampu guru di bidangnya.

’’Adanya program SAS ini, kami mendukung agar siswa mendapatkan wawasan lebih luas dan memperkuat pendidikan karakter,” kata dia.

Begitu juga soal ditiadakannya PR di sekolah. Menurut Nur, ada plus-minus tidak adanya PR di sekolah. Positifnya, tidak ada PR justru memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih banyak memiliki waktu dengan keluarga dan dapat mengembangkan potensi di luar sekolah. Contohnya, les, ikut klub olahraga, hingga kesenian.

Kuncinya Pembiasaan dan Kerja Sama Antarguru


PENDIDIKAN karakter penting untuk mengembangkan potensi, kecerdasan, dan tumbuh kembang anak. Kunci utama pendidikan. Berikut wawancara Jawa Pos dengan psikolog pendidikan dari Universitas Airlangga Primatia Yogi Wulandari.

Menurut Anda, apa yang hilang dari anak Surabaya setelah terpaan pandemi Covid-19?

Begini, relasi sosial antara dunia maya dan nyata jelas berbeda. Sekitar dua tahun anak-anak lebih sering menjalin kontak secara virtual.

Padahal, ada aturan dan norma sosial yang memang tidak dapat tergantikan oleh dunia maya. Misalnya, anak tidak memperoleh pengalaman nyata terkait apa yang harus dilakukan ketika bertemu dengan orang baru, saat berkonflik dengan temannya, dan semacamnya.

Pembelajaran daring yang terjadi di Indonesia menyisakan PR. Salah satunya, soal kejujuran selama proses pengerjaan tugas dan ujian. Meski beberapa anak mengerjakannya secara individual dan mandiri, tidak sedikit anak-anak yang dibantu oleh orang tua, membuka buku, atau memanfaatkan gadget saat mengerjakan tugas. Tentu saja, kondisi itu relevan dengan karakter-karakter seperti etos kerja, kejujuran, dan kerja keras.

Bagaimana sudut pandang psikologi pendidikan dalam pembentukan karakter pada anak?

Secara psikologis, pendidikan karakter itu aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Kunci utama dari pendidikan karakter ini ya pembiasaan.

Saran untuk para orang tua dan guru soal pendidikan karakter?

Harus ada kesamaan visi dan misi antara orang tua dan guru terkait pendidikan karakter seperti apa yang akan diberikan pada anak. Perlu dipastikan bahwa karakter-karakter yang akan ditanamkan benar-benar relevan dan penting dalam kehidupan anak-anak, baik dalam lingkup pribadi, sosial, organisasional, maupun kebangsaan.

Orang tua dan guru harus bisa menjadi model dalam pendidikan karakter itu. Pendidikan karakter ini bersifat sistemik, tidak hanya menarget atau menuntut anak.

BERSEKOLAH TANPA PR

– SD dan SMP negeri bakal menerapkan pengurangan jam belajar.

– Pengurangan tidak akan menghilangkan menu belajar siswa sesuai dengan panduan Kemendikbudristek.

– Sekolah menyiapkan program pendidikan karakter sesuai minat siswa.

– Pendidikan karakter akan berlangsung selama dua jam.

– PR siswa bakal dikurangi, memberikan waktu bagi siswa untuk belajar hal lain.

– Komunikasi dengan kepala sekolah dan guru telah dilaksanakan. Guru bakal menjadi pembina dalam pembinaan karakter siswa.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore