
Photo
JawaPos.com- Tidak ada habisnya. Itulah keluhan warga Beciro, Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, soal sampah yang memenuhi sungai di wilayah mereka. Berbau dan berpotensi menimbulkan penyakit.
Tiap kali dibersihkan, kondisi sungai bersih tanpa sampah tak berlangsung lama. Sehari atau dua hari berikutnya, muncul lagi bungkusan plastik berisi aneka macam sampah di permukaan kali.
Fajar Zaini, salah seorang warga Beciro, menyatakan bahwa problem sampah sudah ada bertahun-tahun tanpa ada solusi yang berhasil untuk jangka panjang. Menurut pria 26 tahun itu, sebenarnya pemdes setempat cukup rutin melakukan pengerukan sampah di tempat tersebut. ’’Biasanya, seminggu sekali atau dua minggu gitu, ada yang ngeruk,’’ ujarnya.
Namun, pengerukan dan pembersihan sampah hanya semacam solusi jangka pendek. Buktinya, masih ada terus sampah yang lewat di kali selebar 3 meter tersebut. Apalagi saat musim hujan seperti ini.
Aliran air dari Sungai Ketimang di Krian membawa beberapa sampah hingga ke dusun tersebut. ’’Kebanyakan sampahnya merupakan bawaan dari sungai besar di barat sana,’’ katanya.
Bukan hanya sampah bawaan aliran air. Dia juga beberapa kali mengetahui ada warga dari desa dan dusun lain yang malah membuang sampah ke kali tersebut. Padahal, hampir semua warga dusun di sepanjang bantaran membuat imbauan agar tidak membuang sampah di kali. ’’Ini masih mending, dulu sampai ratusan meter ada,’’ ucapnya.
Bukan hanya sampah plastik, beberapa bangkai tikus juga terlihat di sana. ’’Bau banget, Mas, beberapa warga memang sudah mengeluh, bahkan sampai masuk rumah baunya kena angin,’’ ungkapnya. Banjir pun sering terjadi di daerah tersebut. ’’Pas banjir, sampah bisa sampai ke jalanan,’’ katanya.
Kepala Dusun Beciro Santi Mulyanti menyatakan, memang sudah cukup lama sejak hujan lebat beberapa waktu lalu, sampah di sungai tersebut tidak dikeruk. Menurut dia, pengerukan rutin selalu dilakukan setidaknya sebulan dua kali. ’’Memang rencananya dalam minggu ini ada pengerukan sampah manual bersama warga,’’ ujarnya.
Sudah sering Santi meminta bantuan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo untuk mengeruk sungai tersebut. ’’Akhir-akhir ini, pengerukan pakai swadaya desa dan juga warga,’’ ujarnya.
Sebenarnya, pada Jumat (14/10) lalu, jaring air sudah dipasang di Dusun Suruh yang berada di barat Beciro. Namun, karena hujan cukup deras serta adanya pendangkalan, sampah tersebut berhasil melewati bagian atas jaring-jaring yang telah dipasang. Menurut dia, sedimentasi terjadi karena bawaan dari aliran hulu.
Selain itu, saluran gorong-gorong bawah tol yang menjadi penghubung kali juga tidak dikeruk. Alhasil, itu mengakibatkan banjir dan permukaan air juga tinggi saat hujan. ’’Kalau pas aliran airnya tinggi, sampah tersumbatnya di sisi barat tol. Tapi, kalau airnya sudah surut, sampah masuk ke gorong-gorong dan mengalir ke Kali Beciro,’’ katanya.
Menurut dia, masalah sampah tersebut cukup kompleks. Selain pengerukan sampah, sedimentasi yang bisa mengakibatkan banjir perlu diatasi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
