
Rumah Padat Karya Jalan Nias No. 110 Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya.
JawaPos.com–Rumah Padat Karya Viaduk di Jalan Nias, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, meraup omzet puluhan juta rupiah setelah diresmikan Wali Kota Eri Cahyadi pada 28 Mei.
Camat Gubeng Eko Kurniawan Purnomo mengatakan, Rumah Padat Karya tersebut banyak diminati warga Surabaya. Sebab, tempatnya strategis dan kekinian.
”Selain kekinian juga instagramable dan sangat pas untuk tempat meeting bersama teman kantor. Banyak digemari pengunjung, karena suasananya seperti di rumah sendiri, cocok lah untuk ngopi,” kata Eko seperti dilansir dari Antara.
Bukan hanya coffee shop, kata Eko, tetapi juga ada barbershop (cukur rambut) hingga cuci motor dan mobil. Dari tiga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) itu, yang paling banyak diminati masyarakat adalah coffee shop. Sedangkan barbershop dan cuci kendaraan, masih kurang diminati dan belum maksimal.
Kurang maksimalnya dua usaha tersebut, menurut Eko, karena warga berpenghasilan rendah (MBR) yang bekerja di Rumah Pakar itu masih butuh pelatihan. Selain itu, tempat untuk cuci motor dan mobil belum maksimal karena tempat kurang memadai.
”Sementara ini hanya menjalankan coffee shop, karena yang potong rambut itu ternyata tidak sesuai passion. Sedangkan cuci mobil dan motor, tempatnya belum memadai, rencananya pada 2023, kami siapkan di Kantor Kelurahan Baratajaya,” tutur Eko.
Meskipun yang berjalan hanya coffee shop, Rumah Pakar di Viaduk Gubeng cukup memuaskan. Yakni meraup omzet hingga Rp 88 juta per bulan. Omzet itu digunakan untuk gaji, biaya operasional, dan masih banyak lainnya.
”Ada 23 MBR yang bekerja, masing-masing mendapat gaji antara Rp 1,5 juta–Rp 2 juta per bulan,” terang Eko.
Agar pendapat meningkat, Eko bersama jajarannya mempromosikan Rumah Pakar Viaduk Gubeng melalui sosial media (sosmed). Selain itu, menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk meningkatkan skill MBR yang bekerja di tempat tersebut.
”Kita terus melakukan evaluasi. Jadi tidak hanya coffee shop, kami juga menghadirkan pelatih dari bidang lain untuk meningkatkan pendapatan sesuai dengan permintaan Pak Wali (Eri Cahyadi) pendapatan MBR bisa sampai Rp 4 juta per bulan,” ujar Eko.
Wali Kota Eri Cahyadi sebelumnya mengatakan, sejumlah aset berupa bangunan milik Pemkot Surabaya dimanfaatkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satunya sebagai rumah padat karya.
Program padat karya itu disesuaikan dengan kondisi wilayah dan aset yang ada. Wali kota mencontohkan, ada aset berupa tambak, dapat dikelola untuk perikanan MBR di wilayah sekitarnya. Demikian pula jika aset itu berupa lahan kosong, bisa dimanfaatkan untuk pertanian atau usaha yang lain.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
