
Photo
JawaPos.com- Sebutlah nama Telaga Ngipik. Hampir pasti sebagian besar warga Gresik mengetahuinya. Telaga seluas 20 hektare yang berada di tengah kota. Tepatnya di Jalan Siti Fatimah binti Maimun. Bersebelahan dengan Kawasan Industri Gresik (KIG).
Telaga tersebut seolah menjadi Oase. Di tengah kepadatan industri. Airnya membiru. Pepohonan merindang. Disebut Telaga Ngipik karena lokasinya di Kelurahan Ngipik. Nama lain telaga itu adalah Giri Wana Tirta. Kata Giri diambil terkait dengan nama Sunan Giri, salah satu tokoh Walisongo di Gresik. Lalu, Wana berarti hutan dan pepohonan, dan Tirta yang artinya air.
Namun, tetap saja lebih populer dan fimiliar dengan sebutan Telaga Ngipik. Kini, telaga itu kian menjadi salah satu destinasi wisata baru. Bersantai melepas penat. Melempar pandang hamparan air, menyapu pantulan pepohonan, mendengar debur hingga menanti matahari yang akan menyembunyikan diri. Tenggelam berganti remang malam. Sesekali menikmati kelincahan atlet ski air. Menari bersama deru speedboat. Serasa di tepi pantai.
Photo
Panorama matahari hendak tenbenam diifoto dari Telaga Ngipik, Gresik (Guslan Gumilang/Jawa Pos)
Awalnya, telaga itu dataran. Sedikit berbukit. Namun, ditambang untuk bahan baku semen. Hingga berkubang besar. Menjadi tempat penampungan air. Meski kemarau sekalipun, air di telaga itu tidak pernah habis.
Seiring berjalannya waktu, dulu sempat muncul kesan negatif. Maklum, banyak berdiri ’’warung pangku’’ di timur jalan. Panorama pun tampak kumuh. Petugas penegak perda pun rutin beroperasi. Beberapa kali terjadi resistensi dari para pemilik usaha di tempat itu.
Sejak 2021, di lokasi itu mulai berdiri beberapa tempat nongkrong atau kongkow. Yang lebih nyaman dan terbuka. Lebih artistik. Rindangnya pepohonan menambah kemolekannya. Saat sore, makin ramai. Pengunjung berlomba mencari view indah. Lalu, menggugahnya ke akun medsos.
Di Telaga Ngipik juga banyak pemancing ikan. Pengunjung pun bisa menikmati speedboat. Sensasi yang dirasakan tentu berbeda. Ombak-ombak di telaga menari, serasa berada di tengah laut. Apalagi, saat sore, sorot sinar matahari yang hampir tenggelam. Senja yang tak bertahan lama. Tapi, hanya senja yang tahu berpamtian dengan indah.
Kiky, salah seorang pengelola kafe di Telaga Ngipik, menyatakan, sejak pandemi melandai memang kawasan Telaga Ngipik menjadi destinasi alternatif bagi warga perkotaan.’’Tahun kemarin masih ada pembatasan, dan tahun ini sudah lebih longgar. Nanti ke depan terus dikembangkan,” ucapnya.
Photo
Atlet ski air berlatih di Telaga Ngipik, Gresik (Guslan Gumilang/Jawa Pos
Di kawasan tersebut, juga berderet stan-stan penjual bunga. Beragam jenisnya. Mulai bonsai penghias rumah sampai jenis bunga koleksi dengan harga bervariasi. Ada adenium, anthurium, gelombang cinta, dan sansivera.
Sebetulnya, kawasan Telaga Ngipik bisa lebih dikembangkan lebih menarik lagi. Dulu, PT Sinergi Mitra Investama (SMI), anak perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk selaku pengelola area Telaga Ngipik, telah berencana menertibkan sejumlah warung kopi di sekitar. Dalam surat bernomor: 478/HM.00/SMI/07.2021, PT SMI akan mengembalikan fungsi kawasan timur Telaga Ngipik itu menjadi ruang terbuka hijau. Itu sesuai Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Gresik. Bupati Fandi Akhmad Yani pun mendukungnya. Namun, kini belum jelas kelanjutannya. Timbul-tenggelam seperti senja itu.
Selain masih membutuhkan sentuhan lebih agar semakin eksotik dan menjadi satu ikon Gresik, keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik juga terasa menganggu. Sesekali aroma tidak sedap tercium. Bau sampah menusuk. Menerobos bersama tiupan angin.
Memang sudah waktunya untuk merelokasi TPA. Tidak lagi berada di tengah kota. Dengan demikian, destinasi telaga itu benar-benar ’’Ngipik’’ alias wangi tur apik. Harum dan baik. Bisakah? Persoalannya, bukan bisa atau tidak bisa. Tapi, mau ataukah tidak mau! Semoga.
Photo
Senja menjadi waktu favorit pengunjung untuk datang ke Telaga Ngipik, Gresik. Jika beruntung dan tidak sedang mendung, panorama terlihat indah. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
