
Photo
JawaPos.com– Persoalan kelangkaan BBM jenis solar untuk para nelayan telah menjadi atensi khusus Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Gresik pada April 2022 lalu. Progres rencana pembangunan stasiun pengisian bahan bakar khusus (SPBK) nelayan itu diisebut terus berjalan.
PT Gresik Migas sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengawal pembangunan itu berharap pada akhir tahun ini SPBK bisa beroperasi.
Direktur Utama PT Gresik Migas (Perseroda) Habibullah menyatakan, saat ini pihaknya menyelesaikan tahap kajian strategis untuk menuju tahap perencanaan dan penyiapan lahan. Pihaknya masih mendata jumlah kuota, titik SPBK, dan jumlah nelayan di Gresik.
Setelah tahap itu selesai, Gresik Migas baru akan mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). ’’Nanti KKP yang mengeluarkan rekomendasi, kemudian melangkah ke BPH Migas (Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi) dan Pertamina sebagai penyedia,’’ ucapnya.
Menurut Habib, proses akan lebih panjang di tingkat atas. Meski demikian, karena sudah menjadi atensi presiden, pihaknya berharap kementerian nantinya juga cepat mengeluarkan rekomendasi itu. ’’Kami baru bisa bergerak ketika rekomendasi tersebut sudah keluar karena kami hanya pengelola,’’ imbuhnya.
Kemudian, lanjut Habib, atensi dari presiden saat itu hanya di wilayah Lumpur. Namun, karena sekali jalan, rencana pembangunan SPBK itu juga diperuntukkan di titik lain. Sebagaimana Ujungpangkah satu titik dan Bungah–Sidayu satu titik. ’’Titik itu yang menentukan Dinas Kelautan Pemprov Jatim. Sebab, menyangkut akses distribusi dan penunjang lainnya,’’ jelas Habib.
Apabila pembangunan SPBK itu lancar, Habib memperkirakan pada kuartal keempat SPBK sudah bisa beroperasi. Terutama di wilayah Kelurahan Lumpur. ’’Harusnya tahun ini sudah bisa operasi, ini masih tahap perencanaan. Tapi, harus melalui tahapan-tahapan itu sampai ke tingkat pusat. Semoga tidak terhambat,’’ ucap dia.
Sebelumnya, Habib menyatakan, pendirian SPBK itu memang perlu investasi yang cukup besar. Terdapat dua sumber pendanaan yang bisa digunakan. Yakni, hibah atau given dari pemerintah pusat. Namun, yang jelas, apabila sumber pendanaan itu lancar, pendirian SPBK tersebut tidak membutuhkan waktu lama.
Sementara itu, Imron, seorang nelayan di Kelurahan Lumpur, juga mengharapkan SPBK itu segera terealisasi. Meski sehari hanya membutuhkan 3–5 liter, adanya SPBK akan lebih memudahkan nelayan. ’’Kalau di sini, terbantu solar dari kapal-kapal itu. Tapi, kadang sering telat sehingga SPBK itu juga kami harapkan,’’ ujarnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
