
Warga saat beraktivitas di Pemukiman kumuh di kawasan Kebon pala, Jakarta, Kamis (26/8/2021). Pemerintah menargetkan akan menghapus kemiskinan ekstrem di akhir 2024 mendatanag. Saat ini menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat kemiskinan ekstrem m
JawaPos.com–Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menarget jumlah Masyarakat Penghasilan Rendah (MBR) di Kota Surabaya menurun sebanyak 679.624 pada 2022. Artinya, selama 2022, Pemkot Surabaya harus menyejahterakan 679.624 warga miskin. Targetnya, jumlah tersebut tak lagi terdaftar sebagai warga MBR.
”Jumlah MBR di Surabaya sebanyak 979,624 jiwa dan hal ini harus bisa berkurang pada 2022, menjadi 300 ribu jiwa,” tegas Eri pada Jumat (8/4).
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencanangkan program Padat Karya pada Maret. Bekas tanah kas desa (BTKD) akan dioptimalkan untuk pemberdayaan masyarakat penghasilan rendah (MBR).
”Warga MBR akan diberi pelatihan di bidang usaha pertanian dan bidang usaha nonpertanian,” terang Eri.
Eri berharap, MBR bisa memanfaatkan aset milik Pemkot Surabaya. Baik dalam sektor pertanian dan nonpertanian. Seperti, jenis usaha cuci mobil, laundry, menjahit, rumah produksi batik, kafe, hingga sentra wisata kuliner.
”Bagaimana caranya? Pemerintah bersama DPRD Kota Surabaya dan stakeholder akan saling bersinergi mengentaskan kemiskinan,” ungkap Eri.
Selain itu, pada proses pengolahan lahan, MBR akan mendapat pendampingan para ahli. Pemkot Surabaya juga membagi mereka dalam memanfaatkan lahan, yaitu berdasar lokasi tempat tinggal.
Hal ini dilakukan, untuk upaya antisipasi adanya aset yang akan dimanfaatkan perseorangan. ”Jadi sudah ada nama-nama kelompok MBR yang bertanggung jawab di setiap lahan dan pasti akan menjadi pengawasan kami dan DPRD Kota Surabaya,” tutur Eri.
Pemerintah berperan sebagai fasilitator, memiliki tugas untuk menunjang kegiatan masyarakat untuk menghasilkan pendapatan untuk menaikkan taraf hidup. Lahan tersebut harus dimanfaatkan tenaga kerja yang berasal dari kalangan MBR Kota Surabaya.
”Surabaya memiliki banyak aset untuk mengentaskan kemiskinan, gizi buruk, maupun stunting. Harus ada pekerjaan untuk warga kami yang menganggur,” ujar Eri.
Dia menjelaskan, program padat karya juga dikuatkan melalui Surat Edaran Bersama (SEB) tentang Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia pada Pengadaan Barang/Jasa di Lingkungan Pemerintah Daerah. Melalui SEB, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sepakat menetapkan minimal 40 persen alokasi belanja barang dan jasa dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) harus dikerjakan UMKM.
”Ini menjadi tantangan, karena kita harus mengubah pola pikir masyarakat yang terbiasa ingin mendapat bantuan untuk bekerja dan berusaha. Di sisi lain, kita terus memberikan pelatihan, agar mereka terbiasa mandiri. Insya Allah, kekuatan itu akan kita lakukan bersama DPRD Surabaya,” jelas Eri.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Reni Astuti menyatakan, langkah Pemkot Surabaya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat atau pengentasan kemiskinan telah dimulai dalam berbagai bidang. Di antaranya, bidang kesehatan melalui program UHC (universal health coverage), beasiswa bidang pendidikan, hingga melakukan kerja sama dengan hotel untuk penggunaan produk UMKM.
Selanjutnya adalah program padat karya, dengan melakukan pemanfaatan aset. ”Artinya, para camat dan lurah juga harus menghitung total usia produktif dari MBR di wilayahnya. Serta menghitung jumlah aset dan potensi pemanfaatannya,” papar Reni.
Dia mencontohkan, salah satu aset Pemkot Surabaya di Jalan Nias Kecamatan Gubeng, akan dimanfaatkan dalam kategori nonpertanian. Yakni, dimanfaatkan sebagai tempat cuci mobil dan sentra ekonomi kuliner, yang mulai dimanfaatkan setelah Lebaran.
”Selain strategis karena berada di tengah kota, juga bermanfaat untuk penyediaan lapangan pekerjaan. Ini adalah salah satu model aset untuk kegiatan nonpertanian, yang bisa dicontoh camat dan lurah,” terang Reni.
Meski demikian, pihaknya akan terus melakukan pengawasan melalui setiap komisi, dengan mengundang perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Surabaya. Salah satunya meminta penjelasan program secara jelas dan terperinci. Di antaranya, digitalisasi aset, pendataan potensi masyarakat, dan potensi kota.
”Karena konsep dari Wali Kota Eri Cahyadi sudah sangat bagus, kami berharap di tingkat PD hingga kecamatan dan kelurahan bisa segera mewujudkan pencapaian yang diinginkan,” ucap Reni.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
