Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 Desember 2021 | 21.48 WIB

Perlu Tunjungan Romansa yang Berkelanjutan

SARAT CAGAR BUDAYA: Pengunjung wisata heritage beraktivitas di Jalan Tunjungan, Sabtu (6/11). Wisata yang menyajikan banyak bangunan bersejarah tersebut rencananya ditata supaya terintegrasi dengan yang lain. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

SARAT CAGAR BUDAYA: Pengunjung wisata heritage beraktivitas di Jalan Tunjungan, Sabtu (6/11). Wisata yang menyajikan banyak bangunan bersejarah tersebut rencananya ditata supaya terintegrasi dengan yang lain. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Jalan Tunjungan berbenah menjadi jujukan warga Surabaya. Meski demikian, gagasan itu harus menjadi pengungkit hidupnya kebudayaan di Surabaya. Perlu berembuk dengan aneka komunitas. Berikut Wawancara Dosen FIB Unair Kukuh Yudha Karnanta:

---

Bagaimana Anda melihat Jalan Tunjungan saat ini?

Pada prinsipnya, program Pemkot Surabaya ini bisa dibaca sebagai upaya untuk menyemarakkan Jalan Tunjungan. Sebab, sejak awal kawasan itu sudah ramai. Dengan begitu, hadirnya Tunjungan Romansa membuat jalan tersebut lebih semarak lagi.

Dari kacamata kebudayaan, ini patut diapresiasi. Sebab, inisiatif untuk menyemarakkan wisata Tunjungan oleh pemerintah sudah ada.

Apakah ada catatan khusus terkait wisata Tunjungan?

Konsep pengembangan Tunjungan sebagai wisata heritage perlu dikomunikasikan secara lebih luas ke publik. Perlu ada urun rembuk seperti apa konsep pengembangan wisata Tunjungan ke depan.

Semua stakeholder yang terkait diundang. Ini harus dibicarakan untuk mengakomodasi usulan dari berbagai komunitas sehingga timbul rasa memiliki dan peduli. Kalau komunitas ini diberi ruang untuk berkreasi, mereka akan bergerak dengan sendirinya.

Konkretnya bagaimana?

Saya kira konsepnya bisa dibuat lebih baik lagi. Dan, sifatnya harus berkelanjutan. Bukan hanya seremonial dan sesaat belaka. Bukan dalam rangka memperingati momen Hari Pahlawan 10 November saja.

Akan sangat ideal jika Pemkot Surabaya membuat program yang berkesinambungan. Juga harus partisipatif. Tentu dengan melibatkan lintas komunitas. Misalnya, komunitas sejarah, seni, dan budaya. Sebab, mereka terkait langsung dengan kegiatan ini. Juga tentu pelaku UMKM untuk pengembangan ekonominya.

Memang kesan Jalan Tunjungan seperti apa sejauh ini?

Saat ini yang kita lihat secara kasatmata, di sana ada beberapa stan UMKM kuliner, pertunjukan musik, dan anak-anak penyuka fotografi dengan spot bangunan cagar budaya.

Apakah ada saran khusus terkait pengembangan?

Peran komunitas itu sangat penting dalam memajukan kebudayaan. Jadi, libatkanlah mereka. Banyak sekali komunitas budaya di Surabaya. Misalnya, Komunitas Begandring, Roode Brug Soerabaia. Komunitas film hingga musisi. Intinya, lintas komunitas. Secara lebih luas.

Apakah ada saran wisata Jalan Tunjungan akan dibawa seperti apa?

Itu sulit dijawab. Tapi, Jalan Tunjungan itu punya identitas sejarah yang sangat kuat. Tema heritage tersebut patut dioptimalkan sebagai branding utama. Sebab, di sana berderet bangunan-bangunan kuno penuh nilai sejarah. Tapi, heritage saja tanpa ada atraksi yang menarik, rasanya kurang lengkap.

Peluang perputaran ekonomi juga ada?

Pasti ada. Potensi ekonomi kreatif juga akan berkembang. Berdayakan warga sekitar. Misalnya, dari penjualan atau sewa merchandise khas Jalan Tunjungan. Contohnya, ada baju-baju pejuang Surabaya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore