
SARAT CAGAR BUDAYA: Pengunjung wisata heritage beraktivitas di Jalan Tunjungan, Sabtu (6/11). Wisata yang menyajikan banyak bangunan bersejarah tersebut rencananya ditata supaya terintegrasi dengan yang lain. (Robertus Risky/Jawa Pos)
Jalan Tunjungan berbenah menjadi jujukan warga Surabaya. Meski demikian, gagasan itu harus menjadi pengungkit hidupnya kebudayaan di Surabaya. Perlu berembuk dengan aneka komunitas. Berikut Wawancara Dosen FIB Unair Kukuh Yudha Karnanta:
---
Bagaimana Anda melihat Jalan Tunjungan saat ini?
Pada prinsipnya, program Pemkot Surabaya ini bisa dibaca sebagai upaya untuk menyemarakkan Jalan Tunjungan. Sebab, sejak awal kawasan itu sudah ramai. Dengan begitu, hadirnya Tunjungan Romansa membuat jalan tersebut lebih semarak lagi.
Dari kacamata kebudayaan, ini patut diapresiasi. Sebab, inisiatif untuk menyemarakkan wisata Tunjungan oleh pemerintah sudah ada.
Apakah ada catatan khusus terkait wisata Tunjungan?
Konsep pengembangan Tunjungan sebagai wisata heritage perlu dikomunikasikan secara lebih luas ke publik. Perlu ada urun rembuk seperti apa konsep pengembangan wisata Tunjungan ke depan.
Semua stakeholder yang terkait diundang. Ini harus dibicarakan untuk mengakomodasi usulan dari berbagai komunitas sehingga timbul rasa memiliki dan peduli. Kalau komunitas ini diberi ruang untuk berkreasi, mereka akan bergerak dengan sendirinya.
Konkretnya bagaimana?
Saya kira konsepnya bisa dibuat lebih baik lagi. Dan, sifatnya harus berkelanjutan. Bukan hanya seremonial dan sesaat belaka. Bukan dalam rangka memperingati momen Hari Pahlawan 10 November saja.
Akan sangat ideal jika Pemkot Surabaya membuat program yang berkesinambungan. Juga harus partisipatif. Tentu dengan melibatkan lintas komunitas. Misalnya, komunitas sejarah, seni, dan budaya. Sebab, mereka terkait langsung dengan kegiatan ini. Juga tentu pelaku UMKM untuk pengembangan ekonominya.
Memang kesan Jalan Tunjungan seperti apa sejauh ini?
Saat ini yang kita lihat secara kasatmata, di sana ada beberapa stan UMKM kuliner, pertunjukan musik, dan anak-anak penyuka fotografi dengan spot bangunan cagar budaya.
Apakah ada saran khusus terkait pengembangan?
Peran komunitas itu sangat penting dalam memajukan kebudayaan. Jadi, libatkanlah mereka. Banyak sekali komunitas budaya di Surabaya. Misalnya, Komunitas Begandring, Roode Brug Soerabaia. Komunitas film hingga musisi. Intinya, lintas komunitas. Secara lebih luas.
Apakah ada saran wisata Jalan Tunjungan akan dibawa seperti apa?
Itu sulit dijawab. Tapi, Jalan Tunjungan itu punya identitas sejarah yang sangat kuat. Tema heritage tersebut patut dioptimalkan sebagai branding utama. Sebab, di sana berderet bangunan-bangunan kuno penuh nilai sejarah. Tapi, heritage saja tanpa ada atraksi yang menarik, rasanya kurang lengkap.
Peluang perputaran ekonomi juga ada?
Pasti ada. Potensi ekonomi kreatif juga akan berkembang. Berdayakan warga sekitar. Misalnya, dari penjualan atau sewa merchandise khas Jalan Tunjungan. Contohnya, ada baju-baju pejuang Surabaya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
