
Petugas Polres Grobogan menggelar olah TKP di kubangan bekas galian golongan C di Dusun Sobotuwo, Desa Kronggen, Kabupaten Grobogan. Subbag Humas Polres Grobogan/Antara
JawaPos.com- Sabtu (27/11) siang, Nugroho Santoso pamit kepada ayahnya, Hari Winarno. Bocah 8 tahun itu berniat kencing di pinggir sungai. Saat itu mereka berdua ngopi di warung dekat sungai di Jalan Sidodadi, RT 01, RW 14, Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo.
Namun, hingga tiga jam kemudian, bocah SD tersebut tak kunjung kembali. Sang ayah mulai bingung mencari Nugroho. ”Bapaknya bermain catur di sana (warung kopi) sambil menunggu hujan reda,” kata Kapolsek Taman Kompol Yoyok Dwi Purnomo, Minggu (28/11).
Awalnya, Hari mengira anaknya berteduh di tempat lain. Sebab, saat itu hujan cukup deras. Ketika hujan reda, Nugroho juga tak kunjung muncul. Hari lantas mencari anaknya di pinggir sungai. Hasilnya nihil. Dia bertanya kepada beberapa orang di dekat lokasi. Namun, tak ada yang tahu.
Pria yang sehari-hari menjadi tukang pijat itu pun melapor ke RT setempat. Sejumlah warga menduga Nugroho jatuh ke sungai. Karena itu, warga berusaha mencari Nugroho dengan menyusuri sungai.
Salah seorang warga, Sudiro, menemukan satu sandal milik korban. Posisinya menancap di lumpur di sungai. Dugaan warga bahwa Nugroho tenggelam semakin kuat. Warga langsung melapor kepada petugas.
Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo, damkar, Polsek Taman, Koramil Taman, Basarnas, dan beberapa relawan datang ke lokasi untuk mencari korban. Pencarian berlangsung sampai Sabtu tengah malam. Namun, korban tak kunjung ditemukan.
Minggu pagi, petugas melanjutkan pencarian. Petugas menyisir sungai dengan metode rantai tali agar seluruh bagian sungai bisa terjangkau. Pada pukul 09.40, korban berhasil ditemukan. Posisinya menyangkut di tumpukan enceng gondok. Jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi ditemukannya sandal korban.
Nahas, Nugroho sudah meninggal. Petugas kemudian mengevakuasi korban dan membawanya ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Surabaya untuk divisum.
Yoyok menjelaskan, berdasar hasil visum, tak tampak adanya luka maupun bukti penganiayaan. Korban murni meninggal karena tenggelam. ”Langsung diserahkan ke keluarganya untuk dimakamkan,” ujarnya.
Yoyok menyebut sehari-hari anak itu memang kerap ikut bapaknya ke warung tersebut. ”Biasanya, bapaknya memang ngopi di situ karena dekat rumahnya,” jelas dia.
Sebab, Nugroho hanya tinggal bersama bapaknya. Sang ibu bersama tiga saudaranya berada di Kabupaten Pacitan. ”Ibu dan bapaknya sudah bercerai. Yang ikut bapaknya hanya anak itu,” tandas Yoyok.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
