
SISWA BARU: Imroatus Sholihah (kanan) dan Erna Kartini menemani Rifat Kausar Arrasyid menjalani perkenalan dengan guru dan teman-teman barunya di SD Muhammadiyah 20 Rabu (8/7). (Achmad Khusaini/Jawa Pos)
JawaPos.com ‒ Rifat Kausar Arrasyid tampak bersemangat di rumahnya Jalan Dupak Bangunsari IV, Krembangan IV, Rabu (8/7). Sejak pukul 08.00 dia bersiap. Kemeja kotak-kotak yang dipadu dengan rompi serta celana panjang hijau terlihat pas dikenakan olehnya. Dia tampil rapi karena menunggu kedatangan guru SD Muhammadiyah 20 Surabaya, tempatnya bersekolah.
’’Hari ini mau kenalan sama guru dan teman-teman di sekolah,’’ kata Rifat di rumahnya. Sambil menunggu sang guru datang, ibunda Rifat, Fitri Yuliani Johar, tampak sibuk menyiapkan perlengkapan yang digunakan saat perkenalan nanti. Antara lain, laptop, speaker aktif, dan meja belajar. Sebab, perkenalan murid dan kepala sekolah dilakukan melalui virtual. Kegiatannya dimulai pukul 09.00 setelah sang pengajar tiba.
Pukul 08.30 dua guru SD Muhammadiyah 20 Surabaya pun tiba. Yaitu, Imroatus Sholihah dan Erna Kartini. Mereka mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti face shield, sarung tangan, dan masker medis. Kemudian, sebelum masuk rumah, Imroatus dan Erna menjalani prosedur tetap (protap) kesehatan. Yaitu, pengukuran suhu tubuh dan dilanjutkan cuci tangan menggunakan sabun.
Sekitar pukul 09.00 perkenalan secara virtual dimulai. Bermula dari pidato Kepala SD Muhammadiyah 20 Surabaya Muhammad Ain, kemudian dilanjutkan perkenalan seluruh murid. Prosedur tersebut menggantikan masa orientasi sekolah (MOS) yang tidak bisa dilaksanakan karena pandemi Covid-19. Perkenalan dilakukan sekarang karena tahun ajaran baru dimulai senin (13/7).
Karena Surabaya dalam kondisi pandemi Covid-19, pembelajaran dilakukan melalui daring. Para guru mendatangi rumah siswa secara bergantian untuk menyosialisasikan pengenalan bagaimana pembelajaran daring. ’’Masing-masing rumah siswa didatangi dua guru atau ustad-ustadah,’’ kata Imroatus. ’’Kegiatan door-to-door dilakukan selama satu semester. Jika dinilai baik, akan diperpanjang,’’ ucapnya.
Dia menilai proses belajar secara bertatap muka dinilai lebih baik dibandingkan melalui daring. Terutama pada murid kelas I SD. ’’Saya berharap selama proses daring berlangsung orang tua bisa mengawasi proses belajar masing-masing,’’ ucapnya.
Wali murid Rifat, Fitri Yuliani Johar, mengatakan bahwa proses belajar membuatnya harus menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Salah satunya wifi. Selain itu, dia harus bisa mendampingi sang anak selama pembelajaran berlangsung. ’’Sehingga walaupun darling anak bisa tetap berkreativitas,’’ paparnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=IuNQisNiKjs
https://www.youtube.com/watch?v=XESbpNaGQuA
https://www.youtube.com/watch?v=stALfR9D_RA

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
