
Tim kesehatan melakukan rapid test untuk mendeteksi Covid-19 kepada salah seorang pengunjung kafe di Kota Surabaya pada Senin (13/4) malam. Humas Pemprov Jatim/Antara
JawaPos.com–Pemerintah Kota Surabaya menerapkan metode sarang tawon untuk mencegah penularan virus korona penyebab Covid-19 meluas. Ketika di satu lokasi ditemukan ada terpapar, di kampung itu pemkot melakukan rapid test secara masal.
Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya Eddy Christijanto menjelaskan, Pemerintah Kota Surabaya telah menggelar pemeriksaan masal menggunakan alat tes diagnostik cepat di wilayah perkampungan Manukan Kulon, Bratang Gede, Rungkut Lor, dan Kedung Baruk. ”Kita melakukan metode sarang tawon. Rapid test dilakukan di suatu wilayah itu berdasar kajian epidemiologi dinkes,” kata Eddy seperti dilansir dari Antara.
Warga yang menurut hasil pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik cepat terindikasi tertular virus korona, akan langsung diminta menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah dia terserang Covid-19. ”Tapi (pemeriksaan) swab kan keputusannya menunggu empat sampai delapan hari. Nah, sambil menunggu hasil swab itu, arahan Ibu Wali Kota, orang tersebut diisolasi di salah satu hotel,” terang Eddy.
Selanjutnya, menurut dia, pemerintah kota akan mengerahkan petugas satuan polisi pamong praja, dinas kesehatan, serta aparat kecamatan untuk memastikan orang-orang yang terindikasi terserang Covid-19 menjalani karantina di hotel guna meminimalkan risiko penularan. ”Nanti kalau hasil swab-nya negatif, mereka dikembalikan ke rumahnya. Tapi kalau hasil swab positif, akan kita rawat di rumah sakit Surabaya. Jadi tujuan kita adalah untuk bisa menekan sejauh mungkin terjadinya penularan,” ujar Eddy.
Dia menambahkan, karantina penting mengingat tidak semua orang yang terserang Covid-19 mengalami gejala sakit dan berpotensi menularkan virus kepada orang lain. ”Jadi supaya ini tidak menular kemana-mana, kami mohon khususnya bagi yang OTG (orang tanpa gejala) agar mengikuti kebijakan pemerintah untuk dilakukan isolasi,” tutur Eddy.
”Justru orang yang tanpa gejala, dia merasa sehat akhirnya bisa kemana-mana. Bergaul dengan orang lain, akhirnya menularkan yang lain. Kalau orang itu terpapar positif, tim medis juga pasti mengantisipasi dengan APD (alat pelindung diri),” tambah Eddy.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=UszCDXFPpSo
https://www.youtube.com/watch?v=tMVEV5BGD4A
https://www.youtube.com/watch?v=RpIftLg3XD4

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
