Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Februari 2020 | 01.01 WIB

Sembahyang dan Lontong Cap Go Meh di Puncak Imlek

LESTARIKAN TRADISI: Ratusan jemaat memadati TITD Hong San Ko Tee kemarin siang. Setelah melakukan rangkaian sembahyang, mereka bersama-sama menikmati sajian lontong cap go meh. (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

LESTARIKAN TRADISI: Ratusan jemaat memadati TITD Hong San Ko Tee kemarin siang. Setelah melakukan rangkaian sembahyang, mereka bersama-sama menikmati sajian lontong cap go meh. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Ratusan warga Tionghoa merayakan Cap Go Meh di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hong San Ko Tee di Jalan Cokroaminoto, Sabtu (8/2). Itulah puncak perayaan Imlek yang diadakan 15 hari setelah Imlek.

Mereka mengawali prosesi ibadah dengan sembahyang bersama. Setiap orang terlihat menjalani prosesi tersebut dengan khidmat. Dengan membawa hio, mereka memejamkan mata dan berdoa. Ratusan lilin berukuran besar turut menghiasi sudut-sudut tempat ibadah yang kerap disebut Kelenteng Cokro tersebut.

Prosesi ibadah yang berlangsung sekitar 15 menit itu juga dilengkapi dengan doa bersama. Salah seorang perwakilan jemaat, Yen Tjauw, memimpin pembacaan doa Dalam doa yang dipanjatkan, seluruh jemaat bersama-sama mengamini doa yang dibacakan Tjauw. Di antaranya, meminta kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan, serta terhindar dari musibah atau bencana.

Setelah rangkaian sembahyang tuntas, setiap jemaat mengantre untuk mendapatkan lontong cap go meh. Pihak kelenteng memang menyediakan 300 bungkus lontong cap go meh untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada umat yang datang beribadah kemarin.

Sudiman, salah seorang pengurus kelenteng, menjelaskan bahwa aktivitas tersebut merupakan tradisi turun-temurun di kelenteng yang berdiri sejak 1919 itu. Tepatnya saat sang mertua, Juliani Pudjiastuti, memimpin tempat ibadah tersebut pada medio 2000-an.

’’Sebelum mertua saya, nggak ada tradisi ini. Baru saat beliau yang menjadi generasi keempat kepemimpinan, dibuat acara bagi-bagi lontong cap go meh. Mertua saya sih dulu bilangnya itulah bentuk berbagi dari umat untuk umat,’’ paparnya.

Dia mengungkapkan, kudapan tersebut menjadi salah satu makanan khas yang lekat dengan perayaan Cap Go Meh. Terutama di kalangan kaum Tionghoa peranakan Jawa.

Sudiman menuturkan, ratusan porsi lontong cap go meh itu dimasak sendiri oleh keluarganya dengan resep asli dari mama mertuanya yang sudah wafat pada 2017. Sejak semalam sebelumnya, sepuluh orang juru masak dan anggota keluarga bahu-membahu menyiapkan bahan masakan sebelum mengeksekusinya di dapur pada pukul 09.00.

’’Di antara total 300 bungkus itu, 200 bungkus dibagi saat siang dan 100 sisanya untuk umat yang datang sembahyang ketika sore,’’ jelas lelaki 34 tahun tersebut. Menurut dia, tradisi yang berlanjut tersebut merupakan bentuk menjaga tradisi.

Jemaat yang datang tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga dari Malang, Mojokerto, dan Kediri.

Sajian lontong cap go meh yang berisi lontong, opor ayam, sayur rebung, sambal goreng hati, dan potongan telur dimakan beramai-ramai. Sebagian jemaat memilih untuk membawanya pulang. ’’Ini salah satu yang dirindukan pas perayaan Cap Go Meh. Makanannya sangat khas. Apalagi, ada koya yang bikin cap go mehnya makin mantap,’’ ucap Johan Budiman, salah seorang jemaat, kemarin

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore