Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Januari 2020 | 01.19 WIB

Hadapi Cuaca Ekstrem, Pemkot Surabaya Pastikan Rumah Pompa Siap

WARNA-WARNI: Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mengecek kesiapan Rumah Pompa Tambang Boyo, Kelurahan Pacar Keling, Tambaksari. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos) - Image

WARNA-WARNI: Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mengecek kesiapan Rumah Pompa Tambang Boyo, Kelurahan Pacar Keling, Tambaksari. (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)

JawaPos.com – Curah hujan tinggi membuat sebagian wilayah di Jabodetabek kebanjiran. Bencana itu menjadi alarm bagi Pemkot Surabaya untuk semakin waspada menghadapi musim hujan di awal 2020.

Kabid Pematusan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Samsul Hariadi mengatakan bahwa persiapan menghadapi musim hujan dilakukan sejak setahun lalu. Saluran-saluran air dibersihkan. Rumah pompa dan boezem ditambah. ”Khusus rumah pompa, 95 persen siap kerja. Totalnya 57 pompa. Petugasnya stand by 24 jam,” katanya kemarin.

Mengapa tidak 100 persen? Samsul menjelaskan bahwa ada kemungkinan kinerja rumah pompa terganggu gara-gara sampah Sampah-sampah bisa masuk dan membentur baling-baling pompa.

Pemkot sebenarnya sudah meletakkan sejumlah penyaring di berbagai titik saluran. Tujuannya, agar sampah dari saluran yang lebih kecil tidak masuk ke saluran utama. Namun, tetap saja ada yang bisa lolos. ”Yang sering itu terlilit tali. Makanya, kami mohon kesadarannya agar tidak membuang sampah di sungai,” ujarnya.

Rumah pompa tersebut menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Pertamina juga telah membantu pemkot memastikan seluruh rumah pompa tidak kehabisan bahan bakar. Sebab, selama debit air sungai tinggi, pompa bisa menyala seharian. ”Kami dipinjami lima tangki oleh Pertamina,” tuturnya.

Pemkot juga telah menambah banyak boezem di berbagai wilayah. Sedimen pada boezem juga dikeruk agar daya tampungnya semakin tinggi.

Salah satu wilayah yang paling rawan banjir adalah Sumberejo. Awal tahun lalu, tanggul sempat jebol dan membuat delapan RW terbenam. Samsul sudah meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo segera merealisasikan bendungan beton. ”Bendungan beton cukup mahal. Per 500 meter membutuhkan dana Rp 10 miliar,” ucapnya.

Kendati begitu, pemkot telah memperkuat titik yang ambrol dengan bendungan bronjong atau batu yang diikat kawat. Pemkot juga membangun rumah pompa di Sumberejo dengan anggaran Rp 25 miliar tahun lalu.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Surabaya Baktiono mendatangi langsung Rumah Pompa Tambang Boyo kemarin. Dia mewanti-wanti agar rumah pompa tersebut selalu dijaga selama 24 jam. ”Jangan cuma siap Pak, tapi gak onok uwonge,” tuturnya.

Baktiono mengungkapkan, cuaca ekstrem tidak bisa diprediksi. Masyarakat harus siap setiap saat ketika debit air meningkat. Karena itu, kesigapan penjaga rumah pompa juga harus dipastikan lagi.

Politikus PDIP tersebut menyatakan bahwa kesiapan rumah pompa menjadi penting. Dia mencontohkan banjir di Jakarta dua hari kemarin. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah antisipasi tidak dilakukan. Rumah pompa yang ada tidak siap. Dari 250 rumah pompa, hanya 50 yang aktif.

Padahal, kata Baktiono, fungsi rumah pompa sangat vital saat musim hujan seperti ini. Selain mengurangi debit air yang berlebih, rumah pompa berfungsi mengendalikan debit air yang masuk dari laut maupun hujan. Ada pintu air yang bisa diatur untuk menyesuaikan kondisi airnya.

Beberapa rumah pompa di Surabaya masih dibangun. Anggota dewan lima periode itu menjelaskan, satu per satu rumah pompa yang aktif harus dicek. ”Kudu ngunu kalau tidak ingin Surabaya seperti Jakarta. Jangan sampai terlambat,” katanya.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga mengecek kesiapan rumah pompa di Wonorejo dan Gununganyar. Mantan kepala badan perencanaan dan pembangunan kota (bappeko) itu memastikan dua pompa air di lokasi tersebut berfungsi. Mulai tekanan, kekuatan, sampai kapasitasnya. Risma juga ingin memastikan air bisa mengalir dengan baik ke laut. Targetnya, genangan air bisa surut maksimal tiga jam.

Waspadai Angin Kencang, Hindari Pohon Besar


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi wilayah Jatim, termasuk Surabaya, mengalami cuaca ekstrem berupa angin kencang dan hujan. Warga diminta menjauhi pohon dan mengatur kecepatan kendaraan.

Perkiraan cuaca ekstrem itu terjadi mulai kemarin (4/1) hingga besok (6/1). Di Surabaya cuaca esktrem tersebut berupa angin kencang yang berembus pada siang hingga sore. ”Untuk itu, masyarakat harus hati-hati,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda Teguh Tri Susanto kemarin.

Angin kencang di beberapa wilayah di Jatim tersebut merupakan fenomena regional. Penyebabnya adalah tekanan rendah angin di wilayah selatan Indonesia. Kemudian, itu berdampak di beberapa wilayah, termasuk Jatim Fenomena angin kencang tersebut, menurut Teguh, akan berlangsung selama 2–3 hari ke depan. Selama angin kencang, intensitas hujan sedikit berkurang. Meski angin itu berlangsung singkat, Teguh memperingatkan agar masyarakat waspada. ”Terutama hindari berteduh atau berhenti di bawah pohon,” tuturnya.

Untuk pengendara sepeda motor maupun roda empat, Teguh mengimbau agar mereka berhati-hati. Mereka tidak boleh memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. ”Khususnya di area jalan tol,” jelasnya.

Sebab, kecepatan angin akan lebih terasa di area lapang dan terbuka daripada tertutup. Menurunkan kecepatan berkendara akan menghindarkan risiko kendaraan oleng terempas angin.

Untuk pemerintah daerah, Teguh menuturkan bahwa pengecekan rutin terhadap pohon di area jalan harus dilakukan. Ada dua kondisi yang harus dipahami. Pertama, pohon terlalu lapuk. Kedua, pohon sudah rimbun. Selain angin kencang, berdasar prakiraan BMKG Juanda, hari ini hingga besok, Surabaya akan mengalami hujan pada siang dan sore. Saat siang, hujan disertai petir.

Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Amien Widodo menjelaskan, saat ini yang perlu dilakukan Pemkot Surabaya adalah pemeriksaan pohon, tidak sekadar melakukan pemangkasan.

Sebab, dia melihat di taman Surabaya banyak pohon besar. Penanaman pohon-pohon itu juga tidak dilakukan secara alami. Mayoritas merupakan hasil stek. Dengan demikian, akarnya tidak bisa menghunjam ke bawah, tetapi ke samping.

”Padahal, pohon sudah tinggi dan besar. Tapi, akarnya tidak kuat,” ucapnya. Kondisi tersebut, menurut dia, harus dicermati pemkot. Jika dirasa sudah tidak aman, pohon harus ditebang. Pengecekan pohon di Surabaya harus seperti pada bangunan. Sebab, pohon rindang di Surabaya dulu juga ditanam, tidak tumbuh secara alami. ”Jadi, harus diperhatikan,” katanya.

Photo

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore