
SANTAI: Warga menjahit dengan duduk di Makam Umum Putat Gede. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
JawaPos.com – Seluruh makam yang dikelola pemkot sudah terlalu penuh, kecuali Makam Keputih dan Babat Jerawat. Namun, banyak warga yang menolak jika diarahkan untuk memakamkan keluarga mereka di sana. Mereka lebih memilih untuk menumpuk jenazah di liang yang sama. Yang penting dekat dengan rumah.
Misalnya, yang terlihat di TPU Ngagel. Nisan-nisan terpasang tak beraturan. Nyaris tak berjarak. Dalam satu liang bisa terdapat tiga nisan yang dipasang. Ada juga satu nisan yang berisi daftar nama jenazah yang dimakamkan di liang itu.
Dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) menerima banyak keluhan soal makam saat pembahasan APBD 2020. Dewan dari berbagai dapil meminta persoalan makam tumpuk tersebut diselesaikan.
Plt Kepala DKRTH Eri Cahyadi sudah menginstruksikan jajarannya untuk selalu mengarahkan penggunaan makam yang masih kosong. Namun, warga selalu menolak tawaran petugas. ’’Susah, Pak. Itu sudah menjadi budaya. Rata-rata enggak mau kalau jauh dari tempat tinggal,’’ katanya.
Dua TPU yang masih memiliki lahan kosong itu memang berada di ujung kota Surabaya. TPU Keputih berada di wilayah timur Surabaya, sedangkan TPU Babat Jerawat di wilayah barat. Mayoritas warga Surabaya Pusat, utara, dan selatan tak mau memakamkan anggota keluarga mereka di sana. Padahal, dua TPU pemkot itu tergolong paling rapi dan tertata. Jarak antarmakam diatur sehingga tidak terlihat simetris. Rumput makam juga rutin dipotong.
Harga retribusinya juga tak terpaut jauh. Retribusi di makam lama Rp 50 ribu saja. Itu hanya dibayar saat pemakaman pertama. Sementara itu, di dua makam baru tersebut nilainya hanya Rp 100 ribu yang dibayar per 3 tahun.
Pemkot terus menambah anggaran belanja untuk menyediakan lahan makam baru. Tahun depan, lahan di Waru Gunung mulai dibebaskan. Saat ini pemkot sudah memiliki 3 hektare lahan di sana. ’’Lahan pemkot ada di paling belakang. Perlu membebaskan lahan untuk akses ke sana,’’ ujar Kepala UPT Makam Surabaya Aswin Agung.
Rencananya, pemkot membebaskan 28 hektare lahan di Waru Gunung untuk menambah kantong makam. Khususnya di wilayah selatan. Di APBD 2020, anggaran baru disediakan untuk pembebasan 1,8 hektare lahan.
Aswin menerangkan, makam Waru Gunung disiapkan untuk jangka panjang. Dalam beberapa tahun ke depan, Makam Keputih dan Babat Jerawat masih bisa menampung lahan makam.
Dia menambahkan, pihaknya selalu menawarkan kepada warga untuk memanfaatkan makam baru. Namun, bagi mereka yang masih ngotot ingin tetap menggunakan makam lama harus membuat surat pernyataan untuk menumpang makam.
Photo

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
