
ROAD SHOW: Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bersama Wakil Ketua KPK Saut Situmorang memberikan edukasi antikorupsi kepada anak-anak di Siola kemarin (13/7). (Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos)
JawaPos.com - Di hadapan ratusan siswa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi pendongeng. Bersama Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Risma membacakan dongeng berjudul Si Empunya Telur yang mengandung prinsip-prinsip antikorupsi. Pembacaan dongeng itu menjadi rangkaian road show bus KPK 2019 bertajuk Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi di gedung Siola, Surabaya, kemarin (13/7).
Kisah itu mempertemukan ayam hutan bernama Ata dan bebek putih bernama Betih. Mereka bersahabat dan punya kandang yang berdekatan. Suatu saat, telur mereka terjatuh dan bercampur. Ata yang ingin telur lebih banyak pun mengambil banyak telur.
Baru diketahui bahwa telur yang dierami Ata adalah anak Betih. Sebab, anak ayam tak bisa berenang Ata pun meminta maaf kepada Betih dan mereka hidup bahagia selamanya.
Dongeng itu disampaikan tak lebih dari 10 menit. Tapi, nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita tersebut begitu dalam. Yakni, tidak boleh mengambil yang bukan hak. Itu salah satu prinsip antikorupsi. ”Mulai kecil kita tanamkan (nilai-nilai antikorupsi, Red), maka besarnya akan sulit untuk berubah. Saya yakin kalau ini kita lakukan, mereka akan menjadi anak-anak yang luar biasa,” ujar Risma setelah acara. Pada saat sesi dongeng itu juga ada interaksi dengan para siswa. Mereka diminta menjawab pertanyaan dan diberi hadiah buku.
Lebih lanjut, Risma mengatakan bahwa memberikan pendidikan antikorupsi sejak dini kepada siswa sangatlah penting. Dalam dunia pendidikan, misalnya, ada yang menyontek saat ujian lantaran takut tidak mendapat nilai bagus. ”Itu namanya cari jalan pintas. Anak ini tidak akan survive pada masa mendatang,” tuturnya.
Pemkot juga berencana membuat semacam kisi-kisi untuk mata pelajaran atau kurikulum antikorupsi. Bahkan, payung hukum dalam bentuk peraturan wali kota juga sudah dirancang. ”Nanti saya bersama dinas pendidikan (dispendik) membuat peraturan wali kota (perwali) pendidikan antikorupsi,” tegasnya.
Sementara itu, Saut Situmorang menjelaskan, kurikulum antikorupsi janganlah dijadikan beban bagi anak-anak. Namun, yang paling penting dalam kurikulum itu adalah penerapannya. Termasuk menanamkan sembilan nilai dasar antikorupsi. Mulai kesederhanaan, kejujuran, keberanian, hingga keadilan. ’’Jangan dijadikan beban kurikulum agar siswa mampu menerapkannya. Nanti juga tidak ada ujiannya karena sudah diterapkan setiap hari,” katanya.
Saut juga menekankan, jangan sampai anak-anak yang bersekolah di tempat bagus, kemudian memiliki karir bagus hingga menjadi pejabat, malah terjerumus. ’’Banyak yang ditangkap KPK itu pendidikannya S-2, S-3. Karena itu, kita jaga integritas mereka dengan memasukkan pendidikan antikorupsi,” tambah dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
