
FOKUS: Erna, warga kampung jahit, tengah mengerjakan pesanan jahitan pakaian kemarin (23/5). Rumah padat karya (RPK) yang berlokasi di Tandes merekrut warga sekitar untuk diberdayakan menjadi penjahit
JawaPos.com - Sudah setahun beberapa rumah padat karya (RPK) beroperasi. Ada yang menuai dampak positif. Tujuan pemulihan ekonomi pun bisa tercapai. Namun, ada juga RPK yang mengalami banyak kendala.
Misalnya, RPK Pembuatan Paving Kenjeran Barokah, Kelurahan Tambak Wedi, Kenjeran. Setiap hari produksi mencapai 20 meter persegi atau 880 paving block.
Sahri, salah seorang pekerja di RPK paving, mendapat upah Rp 1,5 juta–Rp 2 juta per bulan. Namun, beberapa bulan terakhir, pembayaran gaji kerap terlambat.
Hingga Selasa (23/5), seluruh pekerja belum mendapatkan bayaran dari Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya.
Telatnya pembayaran gaji membuatnya tidak bisa melunasi tagihan listrik Rp 800 ribu. Kemarin petugas PLN kembali datang dan meminta pembayaran listrik segera dilunasi. Jika tidak, aliran listrik akan diputus.
”Terdesak, agar produksi tetap berjalan, kami meminjam uang kepada kelompok RPK Paving Kecamatan Tambaksari,” ungkapnya.
Kabid Jalan dan Jembatan DSDABM Surabaya Adi Gunita menjelaskan, pembayaran gaji akan dicairkan pada akhir Mei. Pembayaran listrik menunggak karena alur kas tidak berjalan maksimal.
”Ketika gajian, setiap pekerja harus patungan untuk menutupi biaya operasional. Dengan begitu, tunggakan listrik tidak terjadi,” tuturnya.
Camat Kenjeran Yuri Widarko menyatakan, fasilitas RPK di wilayah kerjanya terus ditambah. Selain di Kelurahan Tambak Wedi, pihaknya kembali menambah sebuah RPK di Kelurahan Sidotopo Wetan.
RPK Anugrah, RW 5, Kelurahan Sidotopo Wetan, bergerak pada sektor laundry pakaian. RPK difasilitasi dengan sembilan mesin cuci dan beranggota 15 orang.
”Selain itu, kami tambah tiga RPK lagi. Yaitu, RPK paving di Kelurahan Tanah Kali Kedinding serta RPK box culvert dan sablon di Kelurahan Tambak Wedi. Dengan begitu, jumlahnya mencapai enam RPK,” jelasnya. ”Kami menjalin kerja sama dengan pihak swasta agar penjualan lancar,’’ tambahnya.
Sementara itu, Camat Pakal Deddy Sjahrial Kusuma mengungkapkan, sejauh ini RPK kampung paving ini melayani pesanan. Ke depan, kecamatan mencoba membantu pemasaran produk paving ini ke wilayah sekitar.
”Saat ini ada dua mesin produksi. Namun, hanya satu yang beroperasi karena kami masih melakukan seleksi perekrutan tenaga kerja pembuatan paving,” terangnya.
Bukan hanya itu, ke depan Deddy juga sudah mengusulkan RPK baru. ”Melihat potensi Gelora Bung Tomo, kami mengajukan RPK sablon. Bahkan, tenaga kerjanya dilatih sejak 2022,” ungkapnya.
Untuk memuluskan rencana tersebut, dia sudah menyediakan tempat dan kini tinggal menunggu persetujuan dari Pemkot Surabaya.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
