Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Mei 2023 | 03.48 WIB

Sumur Jobong di Peneleh Surabaya Jadi Tempat Ritual Para Empu sebelum Membuat Pusaka

DIKLAIM TERTUA: Juru kunci Sumur Jobong Agus Santoso menunjukkan cara mengakses ruangan tempat sumur berada. Di dalamnya ada air sumur Jobong yang disebut tak habis mesk dipompa dengan mesin. - Image

DIKLAIM TERTUA: Juru kunci Sumur Jobong Agus Santoso menunjukkan cara mengakses ruangan tempat sumur berada. Di dalamnya ada air sumur Jobong yang disebut tak habis mesk dipompa dengan mesin.

Air Sumur Jobong di Pandean, Peneleh, Surabaya, menarik minat beberapa pejabat untuk ngalap berkah. Termasuk Ganjar Pranowo saat berkunjung ke rumah kelahiran Soekarno di Pandean IV, Peneleh, Sabtu (6/5) lalu.

---

SUMUR yang dipercaya sebagai peninggalan Majapahit tersebut juga sering dipakai untuk lelaku spiritual. Termasuk tempat bertemunya para resi yang tak kasatmata. Sumur Jobong berada di area permukiman. Lokasinya pun tepat di tengah jalan kampung RT 1, RW 13, Pandean Gang I.

Keberadaannya tak mencolok. Sebab, sumur berada di bawah jalan. Ada dua lempeng besi bundar sebagai penanda lokasi. Saat ada pengunjung, besi berdiameter kurang dari 1 meter tersebut dibuka. Ketika dibuka, tampak ruangan 2 x 2 meter. Di lantai ruangan rahasia itulah bibir sumur tersebut berada.

Saat besi ditutup, ada asap tipis yang keluar dari celah. Aromanya harum. Bau tersebut kian menyengat setelah dibuka. Juru kunci Sumur Jobong Agus Santoso mengatakan, dupa itu sengaja dibakar dan ditaruh di dalam area sumur.

Bukan karena alasan mistis. Melainkan agar tidak ada serangga yang masuk. ’’Kan tambah wangi juga,’’ ucapnya.

Batu-batuan kali ditempatkan di bibir sumur. Agus menjelaskan, Sumur Jobong dibuat beberapa lapis. Lengkungan bulat juga bukan dari besi atau beton. Melainkan dari tanah liat.

Uniknya, kedalamannya kurang dari 1 meter. ’’Paling bawah itu pasir. Air menyumber dari situ,’’ terangnya.

Meski diameter sumur sekitar 83 sentimeter dengan kedalaman kurang dari 1 meter, air di Sumur Jobong tidak pernah habis. Bahkan, saat disedot dengan mesin pompa pun tidak bisa habis. Ditemukan pada 31 Oktober 2018, tempat itu memiliki energi yang sangat kuat.

Pengunjung yang datang ke lokasi cukup banyak. Mereka datang dengan segala urusan. Ada yang mengambil airnya untuk obat. Tapi, pihaknya selalu berpesan untuk tetap berharap kepada Tuhan.

Beberapa bulan lalu juga ada sepasang suami istri yang membawa bayinya ke lokasi. Menariknya, sang bayi juga diajak masuk. Ternyata, di dalam mereka melakukan terapi. Kaki bayi tersebut dimasukkan ke dalam sumur.

Beberapa tamu memang datang untuk melakukan ritual. Sejumlah komunitas Kejawen juga menggelar ritual di area sumur. Menurut Agus, sebagian dari mereka datang ke Sumur Jobong setelah dari makam Eyang Kudo Kardono. Yakni, seorang panglima Majapahit yang dimakamkan di Jalan Cempaka, Tegalsari.

Sumur Jobong ditemukan secara tidak sengaja. Persisnya saat pengerjaan box culvert di kampung. Tapi, seminggu sebelum penemuan, Agus bermimpi melempar batu kepada seseorang berbaju putih.

Namun, yang muncul adalah belut putih. Anehnya, setelah ditangkap lalu dilepas ke kali, belut tersebut kembali. Hingga akhirnya, tepat saat magrib, penggali jalan untuk box culvert menemukan benda seperti tanah liat yang melingkar.

Di sekitar lingkaran itu juga terdapat beberapa tulang manusia dan hewan. Tulang tersebut diuji karbonnya dan DNA-nya di Australia. Hasilnya, pemilik tulang tersebut diperkirakan meninggal tahun 1430-an.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore