JawaPos.com - Surabaya masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan air bersih, terutama karena tingkat konsumsi yang tergolong tinggi. Berdasarkan data dari PDAM Surya Sembada, penggunaan air oleh warga Kota Pahlawan mencapai 200–220 liter per orang per hari. Angka ini melebihi standar konsumsi air di kota metropolitan yang idealnya hanya 180 liter per orang per hari.
Direktur Operasi PDAM Surya Sembada, Nanang Widyatmoko, mengungkapkan bahwa kebiasaan boros air masih ditemukan di berbagai sektor, terutama rumah tangga, tempat ibadah, restoran, hingga industri. Ia mencontohkan, dalam aktivitas berwudu, banyak orang membiarkan air mengalir deras tanpa menghemat penggunaannya. Selain itu, di masjid dan musala, masih banyak keran yang dibiarkan menetes karena tidak ditutup dengan rapat, menyebabkan air terbuang sia-sia.
"Kesadaran masyarakat untuk menghemat air masih perlu ditingkatkan. Misalnya, saat berwudu, cukup dengan meratakan air menggunakan tangan daripada membiarkan keran terbuka deras. Hal-hal kecil seperti ini jika dilakukan oleh banyak orang bisa mengurangi pemborosan," jelas Nanang kepada JawaPos.com.
Tren konsumsi air di Surabaya juga mengalami peningkatan selama bulan Ramadan. PDAM mencatat lonjakan pemakaian air sebesar 260 liter per detik atau sekitar 22.500 meter kubik per hari dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Meskipun kenaikannya hanya sekitar 2 persen, jumlah ini cukup signifikan mengingat kebutuhan air di Surabaya sudah tinggi.
"Kenaikan ini berkaitan dengan perubahan pola aktivitas masyarakat selama Ramadan. Waktu sahur dan berbuka puasa dilakukan secara bersamaan, sehingga pemakaian air melonjak di jam-jam tertentu. Selain itu, pada pagi hari banyak warga yang mencuci dan melakukan aktivitas rumah tangga lainnya, yang semakin menambah beban pemakaian air," terang Nanang.
Saat ini, PDAM Surya Sembada telah berhasil menjangkau seluruh wilayah Surabaya. Namun, tantangan utama bukan lagi cakupan layanan, melainkan menjaga agar distribusi air tetap stabil dengan tekanan yang ideal selama 24 jam.
Menurut Nanang, PDAM masih berupaya memastikan tekanan air minimal berada pada 2 meter kolom air agar aliran tetap lancar ke seluruh pelanggan. Beruntung bagi warga Surabaya Selatan, wilayah ini berada dekat dengan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karangpilang dan rumah pompa Ketegan, sehingga tekanan air cenderung lebih stabil dibandingkan wilayah lain.
"Meski suplai air di Surabaya sudah cukup baik, kami masih memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan semua pelanggan mendapatkan aliran air yang optimal setiap saat," pungkasnya.
Dengan kondisi konsumsi air yang masih tinggi, PDAM mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air, terutama di sektor rumah tangga dan tempat ibadah. Penghematan air bukan hanya untuk mengurangi beban distribusi, tetapi juga untuk menjaga ketersediaan sumber daya air bagi generasi mendatang.