
Istiqomah, ibunda almarhum Malvein Yusuf Ad Dhuqa menunjukkan foto sang anak sembari menahan tangis. (Indah/Radar Mojokerto)
JawaPos.com–Yosef, ayah dari Malvein Yusuf Ad Dhuqa, salah satu siswa SMPN 7 Mojokerto yang meninggal dunia akibat tenggelam di Pantai Drini, Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta, menolak menandatangani surat pernyataan damai yang disodorkan pihak sekolah.
Dia mengungkapkan kekecewaannya terhadap tindakan sekolah yang dinilai tidak menghormati suasana duka keluarga. Yosef mengaku surat tersebut diberikan wali kelas anaknya saat pihak sekolah dan komite datang untuk menggelar doa bersama pada Rabu (29/1). Dia merasa tidak nyaman dengan permintaan mendadak untuk menandatangani surat itu.
”Saya tiba-tiba disodori surat tanpa penjelasan yang jelas, diminta baca dan tanda tangan saat itu juga,” ujar Yosef seperti dikutip dari Jawa Pos Radar Mojokerto, Jumat (31/1).
Surat pernyataan yang terdiri atas tiga lembar itu berisi permohonan agar keluarga korban mengikhlaskan kepergian anak mereka dan tidak mengajukan tuntutan hukum. Yang membuat Yosef semakin geram, pihak sekolah menyebut bahwa setelah tanda tangan, keluarga akan menerima santunan.
”Ini tidak sopan. Anak saya baru saja dimakamkan, tetapi mereka malah membahas santunan,” tandas Yosef.
Menurut Yosef, surat tersebut diserahkan wali kelas almarhum. Namun, dia menolak menandatangani dan justru merobek surat itu di depan sang guru.
”Mereka bilang kalau sudah tanda tangan nanti ada santunan. Itu yang membuat saya marah. Saya langsung robek suratnya saat itu juga,” tegas Yosef.
Selain kecewa dengan surat pernyataan tersebut, Yosef juga menyayangkan kurangnya komunikasi dari pihak sekolah terkait kejadian yang menimpa anaknya. Hingga saat ini, dia mengaku belum mendapat penjelasan langsung mengenai bagaimana Malvein bisa tenggelam. Bahkan, kabar duka itu pertama kali ia ketahui dari berita dan media sosial, bukan dari pihak sekolah.
”Saat guru-guru datang, saya bertanya tentang kejadian, tapi mereka hanya diam. Saya justru tahu dari berita dan media sosial, bukan dari sekolah," ungkap Yosef.
Yosef menambahkan, sebelum mengetahui anaknya meninggal, istrinya sempat dihubungi salah satu guru SMPN 7 Mojokerto sekitar pukul 11.00 WIB pada Senin (27/1). Namun, saat itu, sang guru hanya meminta foto Kartu Identitas Anak (KIA) tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
”Kami hanya diminta mengirimkan foto KIA tanpa penjelasan apa pun. Dari situ saya sudah mulai merasa khawatir,” jelas Yosef.
Sementara itu, Istiqomah, ibu Malvein, mengaku awalnya tidak mengizinkan anaknya ikut ke Pantai Drini. Selain karena khawatir, dia juga mempertanyakan biaya perjalanan yang mencapai Rp 500 ribu tanpa adanya kuitansi resmi.
”Kami sudah membayar Rp 500 ribu, tapi tidak ada bukti pembayaran. Selain itu, sebelum keberangkatan, tidak ada surat izin tertulis yang harus ditandatangani orang tua,” papar Istiqomah,
Menanggapi hal ini, Penjabat (Pj) Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro menyatakan, surat yang diberikan kepada keluarga korban merupakan bagian dari prosedur administrasi.
”Jika ada kecelakaan laut, tentu harus ada laporan resmi yang dibuat. Surat itu bukan berarti sekolah ingin lepas tanggung jawab,” jelas Ali Kuncoro.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
